ART RI–AS: Untung Dagang atau Risiko Ketergantungan Baru?

Tarif nol persen membuka peluang ekspor, tetapi komitmen energi USD15 miliar dan relaksasi pangan menguji batas kedaulatan ekonomi Indonesia. - Ilustrasi
Di tengah euforia tarif nol persen untuk 1.819 produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat, terselip komitmen strategis senilai USD15 miliar yang menuntut kecermatan jauh melampaui angka di atas kertas.

Oleh: Redaksi Samudrafakta.com

Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat menandai fase baru hubungan dagang dua negara yang selama ini terjalin dinamis—kadang hangat, kadang tegang. 

Pemerintah mempresentasikannya sebagai terobosan: ribuan produk nasional akan masuk pasar Negeri Paman Sam dengan tarif nol persen. Namun seperti lazimnya perjanjian dagang modern, manfaat itu datang bersama konsesi yang tak kecil.

Di satu sisi, ada janji ekspansi ekspor. Di sisi lain, ada komitmen pembelian energi dan tekanan relaksasi impor pangan yang menyentuh fondasi kebijakan domestik.

Bacaan Lainnya
Energi USD15 Miliar: Realokasi atau Ketergantungan?

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan membeli BBM, LPG, dan minyak mentah dari Amerika Serikat senilai USD15 miliar, setara sekitar Rp253,45 triliun dengan asumsi kurs Rp16.894 per dolar AS. Komitmen ini disebut sebagai langkah menyeimbangkan neraca perdagangan bilateral.

Secara taktis, argumen tersebut masuk akal. Amerika Serikat mencatat defisit perdagangan barang terhadap Indonesia sebesar USD23,7 miliar pada 2025. Dalam logika negosiasi Presiden Donald Trump, penyesuaian impor dari mitra dagang kerap menjadi instrumen untuk “menutup celah” defisit.

Namun realitasnya lebih kompleks.

Pertama, pemerintah menegaskan ini bukan ekspansi volume impor energi, melainkan realokasi pemasok dari kawasan Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika ke Amerika Serikat. Secara makro fiskal, dampaknya mungkin netral.

Kedua, struktur pasokan berpotensi menjadi lebih terkonsentrasi. Saat ini sekitar 57 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, dan targetnya bisa naik hingga 70 persen. Dalam geopolitik energi, konsentrasi seperti itu bukan sekadar angka statistik; ia adalah potensi leverage. Volatilitas harga kontrak, gangguan rantai pasok, hingga dinamika politik bilateral bisa menjelma risiko nyata.

Pos terkait