Beragam masalah tersebut kemudian diinventarisir, dicarikan solusinya, lalu dituntaskan. Hingga akhirnya Fusion Books berhasil membangun metode sederhana yang aplikatif, yang bisa digunakan oleh para siswa.
Kesederhanaan yang diterapkan dalam Fusion Books itulah yang kemudikan dikembangkan Melanie untuk diterapkan di Canva.
Menuju Kesuksesan
Canva meluncur pertama kali di pasar platform desain dunia pada tahun 2013. Mula-mula ‘hanya’ diikuti oleh 50 ribu pengguna.
Pada tahun 2015, Canva meluncurkan Canva for Work—yang kini dikenal sebagai Canva Pro—dan diikuti 50 pengguna. Ada 50 juta desain yang dihasilkan menggunakan platform ini. Nilai asetnya mencapai USD165 juta atau sekitar Rp2,6 triliun.
Platform pun terus berkembang. Berbagai inovasi fitur baru mulai diluncurkan Canva pada tahun 2017, seperti animasi, desain printing, hingga peluncuran 100 bahasa.
Pada tahun 2018, Canva menjadi Unicorn atau perusahaan rintisan dengan nilai aset lebih dari USD1 miliar atau Rp15,9 triliun, dengan putaran investasi sebesar USD40 juta dolar atau sekira Rp636 miliar.
Canva terus dan terus mengembakan bisnisnya hingga pada tahun 2024. Salah satunya dengan mengakuisisi Zeetings, yang bisa dipakai pengguna untuk melakukan presentasi.
Keberhasilannya Melanie membangun Canva ‘menghadiahkan’ kekayaan bersih yang mencapai Rp4,4 miliar dolar atau sekitar Rp70 triliun versi Majalah Forbes per 14 November 2024.***





