Cak Imin Larang Santri Jadi Kuli Bangunan Ponpes: “Tak Boleh Lagi Sembarangan”

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin./ IG @cakiminow
Setelah tragedi ambruknya Ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo, yang menewaskan puluhan orang, Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar melarang tradisi santri ikut mendirikan bangunan pondok pesantren.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan, pemerintah melarang tradisi santri ikut mendirikan bangunan pondok pesantren atau yang dikenal dengan istilah nguli. Pernyataan ini disampaikan usai robohnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan puluhan orang.

“Itu, santri menjadi kuli, satu tradisi yang akan dievaluasi. Tidak boleh lagi sembarangan,” kata Muhaimin di Jakarta, Selasa (7/10).

Imin—sapaan Muhaimin—mengakui tradisi santri membantu mendirikan bangunan ponpes sudah berlangsung lama. Biasanya dibalut istilah kerja bakti atau gotong royong, di mana santri baru bersama orang tuanya ikut membangun fasilitas pondok yang belum tersedia.

Bacaan Lainnya

Namun, menurut Imin, praktik tersebut kerap dilakukan tanpa standar keselamatan kerja yang memadai. Karena itu, pemerintah kini mewajibkan setiap pembangunan pondok pesantren dikonsultasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau Dinas PU setempat.

“Tidak boleh ada lagi bangunan yang diproses tanpa melalui persetujuan [Kementerian] PU,” ujarnya. “Saya minta semua pesantren di seluruh Indonesia koordinasikan dengan Dinas PU setempat. Semua jenis pembangunan detik ini juga harus melalui koordinasi dengan PU,” tambahnya.

Santri yang ikut membangun pondok kerap membagikan aktivitas mereka di media sosial. Dalam sejumlah unggahan, mereka terlihat bekerja tanpa perlengkapan keselamatan atau alat pelindung diri (APD).

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan seluruh korban reruntuhan Ponpes Al-Khoziny telah ditemukan. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen Budi Irawan mengatakan, dari total korban, 61 ditemukan dalam kondisi utuh dan tujuh lainnya berupa potongan tubuh.

“Seluruh jenazah sudah ditemukan. Dari total itu, 61 dalam kondisi utuh dan ada tujuh berupa potongan tubuh,” ujar Budi, dikutip dari Antara, Selasa (7/10).

Pos terkait