“Buya Syakur ini tawaduk minta ampun; ilmunya sudah internasional, tetapi lebih memilih jadi kiai di kampung,” kata Kiai Ahsin Sakho.
Ada beberapa tafsir Buya Syakur yang out of the box soal Islam. Jarang kiai yang berpikir begitu. Di antaranya:
Sebelum nabi turun, lelaki Arab boleh kawin berapa saja. Lalu dibatasi empat saja. Itu kemajuan besar. Dan itu tahap awal perubahan. Generasi berikutnya harusnya lebih baik, kawin hanya dengan satu saja. Bukan malah melestarikan poligami.
Berikutnya soal perbudakan. Di zaman pra-Nabi perbudakan jadi budaya. Jadi hal biasa dalam masyarakat. Lalu nabi mengajak membebaskan budak. Tahap awal Islam tidak melarang secara drastis, tetapi secara bertahap memerdekakan dengan membeli. Harapannya pada generasi berikutnya perbudakan akan dihapus, melanjutkan upaya memerdekakan itu. Bukan malah dilestarikan, dan wanita boleh diperlakukan seperti budak seperti yang dialami para buruh migran perempuan.
Bahkan beliau mengajak agar syarat wanita kalau mau menikah harus disetujui wali itu bisa dihilangkan. Karena, kalau masih begitu, wanita belum bisa menentukan pilihannya sendiri alias tidak merdeka.
Sekilas bahasan di atas sudah kuno atau bukan hal baru. Tetapi, di tengah upaya beberapa orang yang ingin ‘memurnikan’ ajaran Islam dengan meniru persis cara hidup Nabi pada abad 7, penafsiran Buya Syakur ini mencerahkan!
Penulis juga pernah mendengar dawuh Buya Syakur, bahwa tafsir “Nur Muhammad” itu adalah uswatun hasanah, yang setiap manusia seyogianya meneladani.
Pelajaran penting yang bisa dipetik dari Buya Syakur adalah bahwa setiap individu itu bebas dalam berpikir. Maksudnya, bebas di sini bukan tidak ada aturan, atau malah melanggar aturan, tetapi kebebasan adalah sebuah bentuk kritisisme dalam beragama atau keberanian menganalisa kembali sejarahnya. Menanyakan kembali ajarannya.
Hal ini perlu terus di lakukan secara berkelanjutan agar tetap tercipta kemurnian ajaran agama yang kita anut. Jika tidak demikian, ajaran agama mana pun akan sangat rentan dimasuki, ditunggangi kepentingan pribadi, kelompok.
Penulis masih terngiang ceramahnya saat sowan ngaji ke Cadangpinggan: “Manusia masih bisa berbeda dalam ranah syariat, tarekat, dan akidah. Tapi, seharusnya tidak berbeda dalam ranah cinta (hubb).”
Selamat Jalan Sang Waskita.
Allahummarhamhu rahmatal abrar.
Lahu Al-Fatihah.
FARIED WIJDAN adalah penulis Samudra Fakta.





