Buya Syakur adalah Ulama Kampung Kelas Internasional

Beliau jago dan detail membedah teori relativitas Einstein, teori bigbang, reaksi biokimia, dan ilmu virologi. Beliau bisa menerangkan manusia, alam, dan Tuhan dari berbagai sudut pandang. Dengan syarah dan pembabaran multi perspektif.

Buya Syakur menjelaskan banyak terma-terma ilmu tasawuf dalam sajian bahasa tulis yang ringan, renyah, mudah dipahami semua kalangan. Buya Syakur benar-benar menerapkan maqalah: Khatib al-Nas ‘ ala qadri uqulihim.

Bacaan Lainnya

Buya Syakur bukan sekadar ahli agama, namun juga sosok pujangga, sastrawan, psikolog, dan ‘mursyid’—meski, beliau selalu menolak untuk disebut mursyid, dan  lebih suka disebut sebagi teman, sahabat, yang selalu ingin mengajak orang lain berjalan seiring, saling menasihati dalam kebajikan dan takwa, saling mengingatkan jika ada yang keliru.

Di awal uzlah-nya ke Indramayu, setelah beberapa tahun di Jakarta, setamat dari kuliah di luar negeri, Buya Syakur menggelar beberapa majelis pengajian di Indramayu dan sekitarnya. Jamaah dan peserta kajian yang hadir tidak banyak. Pasalnya, Buya Syakur tidak pernah “menjual” surga dan menakut-nakuti dengan siksa neraka dalam ceramah dan pengajiannya.

Surga dan neraka adalah hak prerogatif Tuhan. Silakan umat manusia tidak pandang agama, mazhab, golongan. Silakan berlomba-lomba berbuat kebaikan, menjalin kerja sama, menjalin bisnis dan lain sebagainya. Yang menentukan siapa yang selamat itu adalah Allah Swt., bukan orang lain atau pemimpin agama.

Surga adalah urusan akhirat. Selagi masih di dunia, lebih baik kita menciptakan surga secara bersama-sama. Dengan jalan apa? Dengan memelihara persatuan dan kesatuan demi keamanan negeri, mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial, melawan penindasan dan kezaliman, dan lain-lain.

Jarang diketahui khalayak, saat di Jakarta, sebelum uzlah ke Cadangpinggan, Kertasemaya, Indramayu, beliau adalah teman diskusi intens Pak Alwi Shihab, Cak Nur, Gus Dur, dan Munawir Sadzali. Almagfurlah Gus Dur pernah menyebut sosok Buya Syakur sebagai sosok ultra rasional.

Keluasan ilmu dan referensinya diakui dan tervalidasi oleh beberapa tokoh Islam di Indonesia, seperti Gus Dur, Habib Quraish, dan Kiai Ahsin Sakho. Ketiga tokoh ini men-tahqiq-kan keilmuan dan kesahihan Buya Syakur.

Pos terkait