Bung Karno Keturunan “Sultan Kediri”

Sedangkan menurut George Quinn dalam Wali Berandal Tanah Jawa, sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sukarno dikabarkan berziarah sampai tiga kali ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Pamenang, Kediri. Kunjungan terakhir Sukarno ke makam dilakukan hanya beberapa hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan. “Aku datang ke sini (Pamuksan Sri Aji Jayabaya) untuk minta restu Raja Jayabaya,” demikian Sukarno menjelaskan kepada rombongannya. Di situs itu Bung Karno berdiam diri selama tujuh menit. Sebelum beranjak, founding father bangsa Indonesia itu berkata: ”Sudah direstui. Sekarang kita bisa pergi”. Mungkin, begitulah cara Sukarno meminta restu kepada leluhurnya.

Secara genealogi, perkawinan Raja Jayabaya dan Dewi Sara melahirkan empat anak, yakni Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja di tanah Jawa, bahkan sampai Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram Islam. Sementara Sukarno diyakni sebagai trah Sultan Hamengkubuwono II, salah satu Raja Kerajaan Mataram Islam Yogyakarta, melalui jalur ayahnya, R. Soekeni.

Dalam Wali Berandal Tanah Jawa juga disebutkan, dalam Jangka Jayabaya terdapat dua bait ikonik yang dianggap menjadi bukti bahwa Raja Jayabaya dapat meramalkan masa depan. Sukarno tampil sekilas dalam kedua bait tersebut. Jika teks ramalan yang terkait Sukarno itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih bunyinya seperti ini: “Lalu Garuda Ngwangga akan berkuasa. Ibunya putri dari Bali. Ia akan berkuasa di tanah Jawa, bala tentaranya setan dan demit”.

Bacaan Lainnya

Garuda ditafsirkan sebagai burung garuda, lambang negara Republik Indonesia.  Ngwangga dianggap merujuk kepada Sukarno. Ngwangga merupakan nama lain dari Adipati Karna, tokoh pewayangan saudara Pandawa, satu ibu beda ayah.

Sebagaimana banyak catatan sejarah, nama Kusno diganti menjadi Sukarno karena ayah Bung Karno terpikat dengan ketokohan Adipati Karna atau Karno. Penggantian nama itu berlangsung di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates Kabupaten Kediri, saat Sukarno kecil sakit-sakitan. Sementara itu, sebagaimana teks ramalan Jangka Jayabaya tadi, ibu Bung Karno juga berasal dari Bali. “Tentara setan dan dedemit” mengacu pada tentara gerilyawan rakyat jelata Indonesia yang mengobarkan perjuangan sengit dan sukses untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945 – 1949.

Dokumentasi Sukarno sungkem dengan ibunya, Ida Ayu. (Dok. Istimewa)

(Wijdan/Bersambung)

 

Pos terkait