Bung Karno Keturunan “Sultan Kediri”

Sementara itu, seorang pegiat sejarah Kediri bernama Fachris mengupas makna pernyataan Sukarno itu secara berbeda. Menurutnya, pernyataan tersebut muncul karena Sukarno tidak terima telah disebut media Belanda sebagai anak hasil perselingkuhan. Jadi, menurut Fachris, penyebutan “keturunan Sultan Kerajaan Kediri” itu bukan mengacu pada silsilah sesungguhnya, tetapi hanyalah upaya Bung Karno menangkis serangan fitnah dari pihak Belanda.

Sebagaimana diterangkan pada bagian awal buku Penyambung Lidah Rakyat, sebuah radio di Belanda pernah menyiarkan bahwa Sukarno adalah anak campuran Belanda dan Pribumi. Sukarno disebut bukan orang Jawa. Kata radio itu, Sukarno lahir dari buruh pribumi yang dihamili oleh seorang tuan tanah perkebunan kopi berdarah Belanda.

Untuk mengklarifikasi fitnah tersebut, Bung Karno menegaskan jika ibunya adalah seorang perempuan keturunan Bali dan kakek pendahulunya dari jalur ayah adalah salah satu prajurit Pangeran Diponegoro, yaitu Raden Danoewikromo—diperkirakan lahir tahun 1804.

Bacaan Lainnya

Saat perang Diponegoro meletus, Danoewikromo yang berusia 20 tahun turut berperang memimpin pemuda sebayanya di Desa Kalirejo, Wirosari, Grobogan. Setelah perang usai, dia kembali ke daerahnya dan menyunting seorang putri di Wirosari. Hasil perkawinan itu menghasilkan empat putra dan seorang putri, yakni Raden Kromoatmojo, Raden Soemodiwirjo, Raden Mangoendiwirjo, Raden Nganten Kartodiwirjo, dan si bungsu, Raden Hardjodikromo—kakek Bung Karno.

Dari sisi silsilah, menurut Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat, Raden Hardjodikromo masih terhitung sebagai cicit Sultan Hamengkubuwono II atau RM. Sundoro. Sedangkan Usman Hadi, dalam Bung Karno: Sang Nasionalis Sejati, menyebutkan bahwa Sukarno merupakan putra Raden Soekeni Sosrodihardjo. Sementara Soekeni adalah putra Raden Hardjodikromo, seorang carik atau juru tulis, yang menurut beberapa keterangan berasal dari keturunan Raja Kediri.

Versi lain menyebutkan bahwa Bung Karno adalah keturunan Raja Mataram dari jalur nasab ayahnya. Urutannya begini: Raden Soekeni Sosrodihardjo merupakan putra Raden Hardjodikromo; Raden Hardjodikromo adalah putra Raden Danoewikromo; Raden Danoewikromo merupakan putra Raden Mangoendiwirjo atau Pangeran Mangkoediningrat; dan  Pangeran Mangkoediningrat merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwono II.

R. Soekeni dan Ida Ayu. (Dok. Istimewa)

Tim riset Samudra Fakta memiliki hipotesa lain. Bisa jadi Sukarno memang keturunan Sultan Kediri, Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa atau Prabu Sri Aji Jayabaya, yang memerintah Kerajaan Panjalu atau Kadiri selama 24 tahun—selama 1135-1159. Dia tersohor sebagai raja adil dan bijaksana. Jayabaya merupakan keturunan Raja Airlangga (1019-1042). Dia  adalah raja ketiga Panjalu setelah Airlangga membelah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Di tangan Jayabaya hukum benar-benar ditegakkan.

Dalam Prahara Bumi Jawa Sejarah Bencana dan Jatuh Bangunnya Penguasa Jawa, Otto Sukatno C.R. menuliskan, pada zaman Raja Jayabaya tidak ada orang yang dikurung, sehingga penjara tidak diperlukan. Yang berlaku saat itu hanya hukuman denda. Mereka yang dinyatakan bersalah harus membayar denda yang besarannya ditentukan. Sementara pencuri, perampok, dan penyamun, dan pelaku tindak kejahatan besar lainnya langsung dihukum mati.  Dengan kekuatan dan kebijakannya, Jayabaya berhasil menyatukan Panjalu dan Jenggala yang bertahun-tahun berseteru akibat perang saudara.

Soal kenapa Sukarno menyebut Raja Kediri sebagai “Sultan”—yang identik dengan gelar raja-raja Islam—Tim Samudra Fakta mendapatkan data sejarah yang kemungkinan bisa menerangkan kenapa Sukarno memilih istilah tersebut untuk menyebut Raja Kediri. Bukti tersebut mengindikasikan bahwa kemungkinan Prabu Jayabaya memang sudah memeluk Islam.

Pos terkait