Dalam Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, Prabu Jayabaya digambarkan memiliki kemampuan luar biasa dalam meramal masa depan dan telah menganut agama Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan bahwa keislaman yang paling mendekati praktik Nabi adalah keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “Yen Islama kadi Nabi, Ri Sang Jayabaya (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati ajaran Nabi (Muhammad Saw.), orang demikian adalah Sang Jayabaya),” tulis serat tersebut. Keterangan ini tercantum pada halaman 20 buku Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon yang ditulis oleh Moh. Hari Soewarno (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982).
Soal keislaman Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut berguru kepada Maulana Ngali Syamsujen yang berasal dari Negeri Rum. Yang dimaksud adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein, seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus, Suriah. Prabu Jayabaya, sebagaimana digambarkan dalam Praniti Wakya, sangat patuh menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.
Sumber sejarah lain yang menyebutkan bahwa penyebar Islam pertama di Kediri adalah Syekh Al-Wasil Syamsuddin atau Mbah Wasil dari Turki. Ada juga yang menyebutnya dari Persia. Mbah Wasil datang ke Kediri di abad ke-12, pada zaman Raja Jayabaya berkuasa di Kediri antara 1135 – 1157. Prabu Jayabaya menyatakan tertarik dengan ajaran agama yang dibawa Mbah Wasil dan meminta Mbah Wasil mengajarkan kitab Musarrar—yang berisi ilmu pengetahuan khusus, seperti perbintangan atau ilmu falak.
Kemungkinan adanya penganut agama Islam pada masa yang diyakini sebagai zaman Jayabaya bukanlah sesuatu yang mustahil. Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad ke-12, pada masa antara tahun 1135 – 1157 M. Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era pemerintahan Airlangga pada abad ke-9, di Leran, sekitar delapan kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan makam seorang bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatullah, yang memberikan informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.
Sementara itu, hasil kesimpulan Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Kumpulan Pidato dan Pendapat Para Pemimpin, Pemrasarana, dan Pembanding dalam Seminar, tanggal 17 – 20 Maret 1963 di Medan (Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, 1963, hal. 265) menyebutkan bahwa Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada ke-1 H atau abad 7 – 8 M.
Sedangkan karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai eranya Jayabaya juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto (Universitas Indonesia, Jakarta, 1960) menyebutkan bahwa Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab. Penggunaan kosakata Arab juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah.
Gaya tulisan pujangga yang demikian tentu tidak mungkin muncul kecuali telah terjadi interaksi dengan penganut agama Islam. Karya sastra ini membuktikan bahwa telah ada komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai eranya Jayabaya. Dengan demikian, dakwah Islam kepada penguasa, termasuk kepada Prabu Jayabaya, pun bukan perihal yang mustahil. Demikian juga tentang keislaman Sang Raja Jayabaya, itu adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih tua.





