DOHA — Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyelesaikan lawatannya ke Timur Tengah dengan kembali menyerukan gencatan senjata di Gaza. Blinken menekankan pentingnya waktu untuk segera mencapai kesepakatan saat berbicara di Doha, Qatar, sebelum kembali ke Washington, Selasa (20/8/2024). Ini menjadi kunjungan kesembilan Blinken sejak konflik antara Israel dan Hamas meletus 10 bulan lalu.
Dalam perjalanannya, Blinken singgah di Qatar, namun tidak bisa bertemu langsung dengan Emir Qatar karena masalah kesehatan. Mereka dijadwalkan akan berbicara melalui telepon dalam waktu dekat. Blinken juga meminta Hamas untuk menerima “proposal jembatan” yang telah disepakati Israel, serta mendesak kedua belah pihak segera menuntaskan kesepakatan tersebut. “Ini harus selesai dalam beberapa hari ke depan, dan kami akan melakukan segala upaya untuk mewujudkannya,” kata Blinken diilansir Arab News, Selasa (20/8/2024).
Hamas, yang melancarkan serangan pada 7 Oktober lalu dan memicu perang, menyatakan siap mencapai gencatan senjata tetapi keberatan dengan “syarat-syarat baru” dari Israel dalam proposal terbaru AS. Sebelumnya, Blinken juga sempat terbang ke Mesir dan bertemu Presiden Abdel Fattah El-Sisi yang menegaskan perlunya segera mengakhiri perang. El-Sisi memperingatkan potensi konflik yang meluas di kawasan jika perang berlanjut.
Di Doha, Blinken bertemu Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulaziz bin Saleh Al-Khulaifi. Keduanya membahas upaya mediasi untuk menghentikan perang. Mesir dan Qatar memang berperan besar bersama AS dalam menengahi gencatan senjata guna mencegah konflik yang lebih besar yang bisa melibatkan Iran dan Hizbullah dari Lebanon.
Israel dan Hamas saling menuding atas lambatnya kesepakatan yang diharapkan bisa mengakhiri pertempuran, membebaskan sandera Israel, dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Serangan udara Israel pada Selasa dilaporkan menewaskan lebih dari dua lusin orang, sementara pasukan Israel menemukan mayat enam sandera.
Hamas terus menuntut penarikan total pasukan Israel dari Gaza, namun tuntutan ini ditolak Israel. PM Israel Benjamin Netanyahu bersikeras mempertahankan kontrol atas koridor strategis di perbatasan Gaza-Mesir. Seorang pejabat AS yang menemani Blinken menilai pernyataan maksimalis semacam itu hanya menghambat tercapainya kesepakatan.





