Ketua Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., yang sudah bertahun-tahun terlibat dalam dunia konversi energi, menyoroti fenomena berbahaya yang kian marak—Pertamax oplosan. Bagi Aklis, yang juga Wakil Dekan IV Fakultas Teknik UMS, kehadiran campuran bahan bakar ini memunculkan risiko yang dapat merusak performa mesin kendaraan.
“Bahan bakar memiliki karakteristik tertentu yang menentukan seberapa optimal ia digunakan dalam mesin. Jika narasi yang beredar mengatakan bensinnya dioplos, maka itu tak sesuai standar, nyampur tanpa perhitungan,” kata Aklis melansir laman UMS, Jumat, 7 Maret 2025. Pernyataan Aklis merujuk pada semakin banyaknya laporan masyarakat mengenai kerusakan mesin yang diduga disebabkan oleh bahan bakar oplosan.
Dalam dunia otomotif, kualitas bahan bakar diukur dengan parameter research octane number (RON), yang menggambarkan ketahanan bahan bakar terhadap pembakaran prematur atau knocking. Mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar dengan RON lebih rendah dari standar yang dianjurkan cenderung mengalami detonasi. Ini bukan hanya soal suara aneh dalam mesin, tetapi juga berpengaruh pada kinerja kendaraan secara keseluruhan.
Detonasi terjadi ketika bahan bakar terbakar lebih awal daripada yang seharusnya, menyebabkan ledakan di ruang bakar yang bisa merusak komponen mesin dalam jangka panjang. Aklis menjelaskan, jika kendaraan yang dirancang untuk menggunakan bensin dengan RON Pertamax dipaksakan untuk mengonsumsi bahan bakar dengan kualitas lebih rendah, efeknya akan terasa.
“RON yang lebih rendah meningkatkan kemungkinan terjadinya detonasi. Mesin bisa terasa ngelitik, kehilangan tenaga, dan efisiensinya menurun,” ujarnya, menambahkan bahwa dalam waktu lama, akumulasi kerusakan ini bisa sangat merugikan kendaraan.
Bukanlah Hal Baru
Namun, di dunia perminyakan, blending atau pencampuran bahan bakar bukanlah hal baru. Proses ini dilakukan secara presisi untuk menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang diinginkan. Misalnya, pencampuran bensin RON 90 dan RON 95 untuk mencapai RON 92, yang merupakan prosedur sah dalam industri perminyakan.
“Blending itu sah. Itu adalah proses pencampuran bahan bakar dengan perhitungan yang matang,” jelas Aklis. Namun, oplosan—pencampuran bahan bakar tanpa standar yang jelas—adalah masalah yang sangat berbeda. Bagi Aklis, oplosan adalah manipulasi bahan bakar yang tidak dapat diterima dalam dunia teknik.
“Jika RON Pertamax dicampur dengan bahan lain tanpa standar yang jelas, itu bukan blending. Itu oplosan. Dan risikonya sangat besar, dari ketidakkonsistenan RON hingga kandungan zat aditif yang merusak kinerja mesin,” tegas Aklis dengan nada kesal.
Selain kerusakan teknis pada mesin, fenomena Pertamax oplosan juga memicu keluhan dari masyarakat. Salah satunya datang dari akun Twitter @farhan_fauzani yang mengungkapkan pengalamannya, “Aku rutin isi pertamax, baru minggu kemarin motorku masuk bengkel gara-gara bensin kesumbat, ternyata tangkinya berkerak sampe nutup saluran.” Ini menjadi bukti konkret bahwa pengendara kian resah dengan kualitas bahan bakar yang tak terjamin.
Menanggapi keluhan tersebut, Aklis mengingatkan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah masalah ini berasal dari bahan bakar itu sendiri atau dari kualitas material tangki yang tidak kompatibel dengan campuran bensin. Satu hal yang pasti: pengawasan terhadap bahan bakar yang beredar di pasar perlu diperketat.
Bicara soal pengawasan, Aklis mengungkapkan kekecewaannya terhadap lemahnya kontrol yang ada. “Pertamina punya standar yang ketat dalam produksi bahan bakar, tapi bagaimana dengan pengawasan di jalur distribusi? Di sinilah celah yang bisa dimanfaatkan oknum untuk memanipulasi kualitas bensin yang sampai ke konsumen,” tuturnya.





