Letnan Jenderal (Letjen) TNI Kunto Arief Wibowo, putra mantan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, batal dimutasi dari jabatan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I. Padahal, baru sehari surat mutasinya terbit. Kenapa batal?
__________
Mutasi Kunto sempat memicu spekulasi publik karena berlangsung di tengah isu politik yang melibatkan sang ayah, Try Sutrisno. Sebagaimana diketahui, Try Sutrisno adalah salah satu purnawirawan TNI yang “merestui” delapan tuntutan Forum Purnawirawan TNI—di mana salah satu tuntutannya adalah mengganti Wakil Presiden (Wapres).

Kunto Dimutasi Jadi Pangkogabwilhan I, 6 Desember 2025
Sebelum “geger mutasi” ini, Letjen Kunto belum lama menduduki jabatan sebagai Pangkogabwilhan I. Dia ada di posisi tersebut setelah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan mutasi besar-besaran terhadap 300 perwira tinggi (pati) TNI melalui Surat Keputusan Nomor Kep/1545/XII/2024 yang terbit pada 6 Desember 2024.
Kunto, yang waktu itu masih berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen), ditugaskan sebagai Pangkogabwilhan I, menggantikan Laksamana Madya (Laksdya) TNI Rachmad Jayadi yang memasuki masa pensiun.
Karena promosi ini, Kunto pun menyandang pangkat Letjen. Dia tercatat sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Darat pertama yang menjabat Pangkogabwilhan I. Biasanya, posisi ini dipegang oleh TNI AL—dan tradisi tersebut sudah berlangsung selama tujuh periode.
Kapuspen TNI Mayjen TNI Hariyanto menyatakan bahwa mutasi tersebut bertujuan untuk penyegaran organisasi dan menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks. Mutasi ini dinilai sebagai titik tolak kebangkitan karier Kunto—yang sebelumnya sempat dianggap stagnan.
Mutasi ke Staf Khusus KSAD pada 29 April 2025
Baru saja empat bulan Kunto menjabat, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto kembali mengeluarkan keputusan mutasi terhadap 237 perwira tinggi TNI melalui Surat Keputusan Nomor Kep/554/IV/2025 tertanggal 29 April 2025.
Dalam keputusan ini, Letjen Kunto dimutasi dari jabatan Pangkogabwilhan I menjadi Staf Khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
Posisi Pangkogabwilhan I yang ditinggalkan Kunto diisi oleh Laksamana Muda (Laksda) TNI Hersan, mantan ajudan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo aluas Jokowi. Sebelumnya Hersan menjabat sebagai Panglima Koarmada III.

Mutasi ini menuai perhatian karena Kunto baru menjabat sebagai Pangkogabwilhan I selama kurang lebih empat bulan (Januari–April 2025). Beberapa pengamat menilai mutasi ini tidak lazim.
Peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, menilai bahwa mutasi terhadap Letjen Kunto terbilang cepat dan tidak lazim. Kata dia, langkah itu menimbulkan pertanyaan publik, apalagi terjadi tak lama setelah nama sang ayah, Try Sutrisno, muncul dalam Forum Purnawirawan TNI yang meminta Gibran dicopot dari jabatan wapres.
”Mungkin saja, karena jabatan empat bulan itu relatif cepat. Pasti menimbulkan pertanyaan publik, kenapa tiba-tiba dirotasi,” ujar Beni, dikutip dari Kompas, 1 Mei 2025..
Pendapat senada juga dilontarkan oleh Karel Susetyo, pengamat politik sekaligus CEO Point Indonesia.
“Mutasi Kunto dapat dikatakan beraroma politis yang kuat. Karena ia dimutasi setelah ramai beredar soal penandatanganan pernyataan pendapat dari Forum Purnawirawan TNI, yang juga melibatkan ayah dari Kunto yakni Jenderal (Purn) Try Sutrisno,” kata Karel dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis, 1 Mei 2025.
Sebagaimana diketahui, Forum Purnawirawan TNI-Polri, yang terdiri dari 103 purnawirawan jenderal, 73 laksamana, 65 marsekal, dan 91 kolonel, itu menyampaikan delapan tuntutan, termasuk pemakzulan Gibran berdasarkan dugaan pelanggaran hukum dalam putusan Mahkamah Konstitusi terkait UU Pemilu.
Adanya keterlibatan Try Sutrisno dalam forum inilah yang memunculkan dugaan jika mutasi Kunto terkait dengan sikap kritis sang ayah terhadap pemerintah.
Namun demikian Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa mutasi tersebut adalah bagian dari pembinaan karier dan kebutuhan organisasi. Bukan karena faktor politik, kata dia.
Namun, spekulasi tetap bergulir di kalangan publik dan media.
Pembatalan Mutasi, 30 April 2025
Sehari berselang setelah mutasi Kunto pada 29 April 2025—yang jadi pembahasan hangat di ruang publik itu—Panglima TNI kembali menerbitkan keputusan mutasi—yang barangkali bisa dikatakan bersifat “revisi”—pada 30 April 2025.

Mutasi itu tercantum dalam Surat Keputusan Perubahan I Nomor Kep/554.a/IV/2025. Di situ ada perihal pembatalan terhadap tujuh perwira tinggi, termasuk Letjen Kunto Arief Wibowo.
Adanya keputusan “revisi” ini membuat Kunto tetap menjabat sebagai Pangkogabwilhan I. Sementara Laksda Hersan, yang tadinya dimutasi menggantikan Kunto, kembali ke posisinya sebagai Pangkoarmada III.
Menurut Kapuspen TNI Brigjen Kristomei Sianturi, pembatalan mutasi dilakukan karena beberapa perwira tinggi, termasuk Kunto, belum dapat meninggalkan jabatannya saat ini.
Kata dia, keputusan ini murni berdasarkan kebutuhan organisasi dan telah melalui pertimbangan Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tertinggi (Wanjakti).
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2019/03/20/2c13bf5a-5348-450a-bcce-1b09656f670c.jpeg)
Kristomei pun menegaskan bahwa pembatalan tidak terkait dengan isu politik, termasuk aktivitas Try Sutrisno di Forum Purnawirawan TNI-Polri.
“Perubahan ini hanya untuk mengakomodir, tapi Pak Kunto belum bisa bergeser karena harus menyelesaikan beberapa tugas,” kata dia kepada wartawan pada, 30 April 2029 .
Respons Publik
“Anomali” pembatalan mutasi Kunto memicu berbagai reaksi di media sosial, khususnya di platform X. Beberapa pengguna menyebut keputusan ini sebagai “breaking news”, dan mengaitkannya dengan spekulasi politik.
Akun @neVerAl0nely, misalnya, memposting serangkaian video dengan narasi “Geger.. Surat (SK) pembatalan pencopotan Letjen Kunto Putra Jenderal Try Sutrisno” pada 2 Mei 2025.
Sedangkan akun @republikaonline menegaskan bahwa Kapuspen TNI membantah keterkaitan mutasi dengan aktivitas Try Sutrisno.
Pada bagian lain, kader PDIP Ferdinand Hutahaean, melalui akun X-nya, menyebut jika pembatalan mutasi sebagai kabar mengejutkan.
Latar Belakang Kunto Arief Wibowo
Letjen Kunto Arief Wibowo lahir di Malang, Jawa Timur, pada 15 Maret 1971. Dia adalah perwira tinggi TNI AD dari kecabangan infanteri.
Lulusan Akademi Militer 1992 ini punya karier militer yang mentereng, mulai dari Komandan Peleton hingga posisi strategis seperti Panglima Kodam III/Siliwangi (2022–2023) dan Wakil Komandan Kodiklatad (2023–2024).

Sebelum menjadi Pangkogabwilhan I, ia menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Ekonomi Sekretariat Jenderal Wantannas pada 2024. Kunto dikenal sebagai prajurit yang tangguh dan berdedikasi, dengan pengalaman luas di berbagai satuan dan komando.
Kronologi mutasi Letjen Kunto Arief Wibowo mencerminkan dinamika internal TNI dalam menyesuaikan kebutuhan organisasi di tengah sorotan publik. Dimulai dari promosinya sebagai Pangkogabwilhan I pada Desember 2024, mutasi ke Staf Khusus KSAD pada April 2025, hingga pembatalan mutasi sehari kemudian, peristiwa ini menunjukkan kompleksitas pengambilan keputusan di lingkungan militer.
Meski spekulasi politik sempat mengemuka, TNI menegaskan bahwa keputusan ini murni berdasarkan kebutuhan tugas dan profesionalisme. Letjen Kunto pun tetap menjabat sebagai Pangkogabwilhan I, mempertahankan posisinya sebagai salah satu perwira tinggi kunci di TNI.***






1 Komentar
Komentar ditutup.