Pada tahun 1988, GM yang dipimpin oleh Roger Smith mulai membangun mobil tenaga listrik. Bekerja sama dengan AeroVironment California, mereka berhasil membuat mobil listrik bernama EV1—yang produksinya baru dimulai pada tahun 1996 – 1999.
Melihat teknologi mobil tenaga listrik mulai berkembang (lagi) di Eropa, produsen mobil asal Jepang, Toyota, tak mau ketinggalan. Mereka memperkenalkan mobil hybrid pertama mereka: Toyota Prius. Mobil yang diproduksi massal tersebut berhasil terjual hingga 18.000 unit. Hingga saat ini Prius masih digunakan sebagai mobil operasional beberapa perusahaan taksi di beberapa negara.
Pada tahun 2009, Departemen Energi Amerika Serikat memberikan pinjaman senilai USD8 miliar kepada Ford, Nissan, serta Tesla Motor untuk pengembangan kendaraan ramah lingkungan. Nissan kemudian meluncurkan mobil listrik yang disebut LEAF, yang mampu berlari hingga 114 kilometer/jam. Di tahun itu sudah banyak mobil listrik yang beredar di pasaran.
Di Indonesia sendiri sebenarnya mobil listrik sudah mulai dikembangkan sejak tahun 2012, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika itu Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta Ricky Elson, seorang anak muda Indonesia yang ahli di bidang motor listrik, untuk mengembangkan mobil listrik buatan Indonesia.
Kerja keras Ricky membuahkan beberapa mobil bertenaga listrik, seperti Selo dan Tucuxi, yang dipamerkan saat KTT APEC di Bali pada tahun 2013. Sayangnya, tak lama setelah itu, pengembangan mobil tenaga listrik di Indonesia mengalami masalah. Proyek ini terhenti karena dituduh merugikan negara. Dahlan Iskan sendiri sempat menjadi pesakitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gegera proyek mobil listrik. Selain itu, mobil listrik dianggap tidak lolos uji emisi.
Dahlan Iskan sendiri mengalami kecelakaan saat sedang menguji Tucuxi dari Solo menuju Surabaya. Insiden terjadi di daerah Plaosan, Magetan, Jawa Timur, pada 5 Januari 2013. Tucuxi mengalami masalah pada sistem pengereman.






