Bani Abdul Jalil yang Istikamah Merawat ‘Nyadran’

Para anak keturunan Kiai Abdul Jalil tengah persiapan mengikuti tradisi nyadran, Selasa (5/3/2024). (Dok. Keluarga Abdul Jalil)

Inti ritual upacara shraddha atau nyadran ini, kata Sulton, adalah menunjukkan rasa hormat kepada arwah leluhur atau nenek moyang, sekaligus mensyukuri anugerah kekayaan alam yang melimpah.

Bagi Sulton dan seluruh keturunan Bani Abdul Jalil, nyadran bukan hanya acara agama-budaya. Nyadran juga merupakan perantara untuk menjalin hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan Allah, sebelum atau menuju Ramadhan.

Bacaan Lainnya

Sementara Gus Nazil, yang merupakan alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, menambahkan bahwa tradisi ini juga memiliki nilai adhiluhung menjaga nasionalisme.

“Di tengah gempuran paham konservatif dan radikal saat ini, masyarakat harus melestarikan tradisi lokal ini. Tujuannya untuk membentengi NKRI dari ideologi terorisme dan transnasional yang mengusik negara. Adanya faham takfiri (mengafirkan), tabdi’ (membidahkan), tasyri’ (mensyirikkan) merupakan bentuk pemahaman Islam konservatif, kaku, dan doktriner. Puncaknya, paham ini berbentuk tindakan keji berupa merusak sampai ngebom. Padahal, teror bukan jihad dan ajaran Islam,” kata Nazil.

“Agama tak sekadar urusan doktrin ideologis,” lanjut Nazil. “Agama harus dipahami sebagai realitas sosial. Maka perbuatan sehari-hari tak boleh kaku karena harus sesuai konteks, lingkungan, budaya dan kebutuhan zaman”, lanjut alumnus salah satu kampus beken di Australia dan Amerika Serikat tersebut.

Nyadran, lanjut Nazil, juga mengajarkan manusia untuk menyambung sejarah—yang berasal dari kata bahasa Arab, “syajaroh”, yang artinya “pohon yang punya cabang, ranting, dan akar”.

“Artinya, kita tidak boleh tercerabut dari masa lalu. Ketika tercerabut dari sejarah, kita akan mudah ditaklukkan dan dijajah,” jelas Nazil

Sedangkan Sulton menambahkan, “Subtansi nyadran adalah ziarah kubur, mendoakan almarhum, membaca ayat Al-Quran, berbagi sedekah atas nama mayit, kesemuanya ini adalah ajaran Islam. Lalu, dari segi mana yang haram, sesat, dan bidah?” kata Sulton.

Sulton melengkapi penjelasannya dengan mengutip hadits Nabi Muhammad Saw. dan teks-teks kitab klasik. Dalam sebuah hadits, kata dia, dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersedekah makanan atas nama Khadijah.

Redaksi hadits tersebut, dalam bahasa Indonesia, adalah: “Aisyah berkata: ‘Jika Rasulullah menyembelih kambing, maka beliau berkata: ‘Kirimkan daging-daging ini untuk teman-teman dekat Khadijah’. Aisyah berkata: ‘Saya memarahi Nabi di suatu hari’. Nabi bersabda: ‘Saya sudah diberi rezeki mencintainya’.” (HARI. Muslim No. 4464)

Rasulullah, menurut Sulton, juga berziarah ke makam para sahabat di Baqi’ pada bulan Sya’ban, tepatnya malam tanggal 15 alias pertengahan Sya’ban—yang dalam kebudayaan kita saat ini dikenal dengan istilah Nishfu Sya’ban.◼︎

Pos terkait