Di bawah hujan Blitar, sumpah baru lahir: kembali menjadi bangsa Indonesia sejati.
Hujan deras tak membubarkan kerumunan di pelataran rumah Bung Karno, Blitar. Mereka basah kuyup, namun semangatnya tetap menyala. Pada peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda, Selasa, 28 Oktober 2025, sebuah sumpah baru hendak diikrarkan: “Kembali Menjadi Bangsa Indonesia”.
Wajah-wajah Bhinneka terlihat jelas. Diinisiasi Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Bhinneka Nasional (LP2BN) dan Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia, para tokoh lintas iman duduk berdampingan.
Ada perwakilan teduh PCNU, tatapan tegas PD Muhammadiyah, serta utusan khusyuk dari BAMAG, Seminari Katolik St. Vincentius a Paulo, PHDI, dan Magabudhi. Hanya Klenteng Poo An Kiong yang tercatat tidak mengirim utusan.
Udara dingin tak mampu membekukan suasana. Pentas seni tradisional silih berganti menghangatkan panggung, orasi kebangsaan membakar semangat. Para tokoh dari jauh—perwakilan Betawi, utusan keraton Jayakarta, hingga kesultanan Kutai—turut hadir menyaksikan.
Di tengah kekhusyukan menunggu puncak acara, drama itu terjadi. Sebuah kabar datang, lebih dingin dari desau angin dan hujan.
Panitia mendapat pesan: Wali Kota Blitar meminta mereka tidak melangsungkan deklarasi di dalam kompleks istana. Alasan resmi tak pernah terucap. Sebuah penolakan halus dari rumah sang proklamator. Orang-orang mungkin mengira semangat itu akan padam. Mereka salah.
Api itu justru membesar. Penolakan melahirkan heroisme. Massa yang kuyup serentak bangkit, memutuskan tumpah ke jalan. Sebuah long march dadakan terbentuk, bergerak dari Balai Budaya menuju gerbang utama di Jalan Sultan Agung. Di sanalah, di jalan raya yang basah, di bawah langit yang masih menangis, mimbar rakyat itu berdiri.
Tuntutan Tiga Tokoh
Tiga sosok maju memimpin. Wima Brahmantya, aktivis muda kebangsaan. Di sampingnya, Jali Pitung, pria yang di nadinya mengalir darah sang legenda Betawi. Dan Kushartono, penjaga spiritual Ndalem Pojok Bung Karno dari Wates, Kediri.
Wima mengambil alih. Dengan suara lantang yang beradu melawan deru hujan, ia membacakan naskah deklarasi. Isinya adalah sebuah teriakan: komitmen untuk kembali ke jati diri Pancasila dan UUD 1945.”Ini adalah komitmen kita!” teriak Wima. “Kita kembali pada jati diri bangsa!”

