Menurut Aniq, kandang ternak berlantai tanah berisiko menjadi sarana penularan antraks, sebab spora yang mampu bertahan bahkan sampai 80 tahun di tanah. Sedangkan untuk kandang berlantai semen, selain mudah dibersihkan dan tidak lembab, cairan disinfeksi yang disemprotkan pada kandang berlantai semen bisa lebih maksimal dan merata.
“Standar kandang di masyarakat kan kita tahu seperti apa. Istilahnya biosecurity-nya tidak mendukung. Tidak harus beton, walaupun itu lebih mudah dibersihkan dan memiliki sanitasi yang baik. Semen itu lebih mudah dibersihkan ketimbang tanah,” katanya.
Semua upaya penanggulangan itu masih perlu dibarengi sederet tindakan lain, seperti pengetatan pengawasan lalu lintas ternak, hingga penyelidikan epidemiologi pada hewan secara menyeluruh saat muncul kasus.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), kasus antraks ini sudah kesekian kalinya merebak di Gunungkidul. Catatan mereka mengungkap, antraks pernah muncul pada Mei dan Desember 2019, Januari 2020, Januari 2022, dan terakhir Juni 2023 ini.

Secara terpisah, Kepala DPKP DIY Sugeng Purwanto mengatakan, Gunungkidul memiliki karakteristik tersendiri hingga membuat kasusnya berlarut-larut atau tak cukup satu kali kejadian seperti di Sleman atau Kulon Progo.
Faktor pertama adalah kontur wilayah plus model beternak di Gunungkidul kemungkinan membuat pemerintah setempat atau instansi terkait kesulitan mengantisipasi penyebaran antraks.
“Perbedaan kita dengan mungkin di daerah lain, ya, kalau di sini kepemilikan ternaknya itu kan sedikit-sedikit dan terpencar di masyarakat bisa. Beda di daerah provinsi lain misalnya itu dalam bentuk kelompok besar, sehingga penanganannya itu menjadi lebih cepat karena tersentral,” kata Sugeng.
Faktor lain yang perlu diingat, kata Sugeng, adalah Gunungkidul sebagai pusat populasi hewan ternak tertinggi di DIY. “Jadi, kalau yang kecil (populasinya), penanganannya lebih sederhana, lebih mudah,” sambungnya.
DPKP juga menyadari masih perlunya upaya persuasif, mengedukasi masyarakat agar tak menyembelih dan mengonsumsi hewan ternak yang mati karena sakit. Mengingat itu adalah salah satu sarana penularan antraks dari hewan ke manusia.





