Antisipasi Cuaca Ekstrem Saat Libur Nataru, Begini Persiapan BMKG

Kepala BMKG
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengecek alat untuk mendeteksi perubahan cuaca di Surabaya, Rabu (18/12). Foto:BMKG
Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, melakukan inspeksi ke sejumlah alat pemantau cuaca di Surabaya. Kunjungan ini bertujuan memastikan kesiapan perangkat untuk mendeteksi cuaca ekstrem demi keselamatan penerbangan dan pelayaran.

Dwikorita memulai tinjauannya dengan memeriksa Automatic Weather Observing System (AWOS) di Bandara Juanda, Rabu (18/12) pagi. Alat ini menjadi tulang punggung pemantauan cuaca bagi keselamatan penerbangan, terutama saat pesawat lepas landas atau mendarat. AWOS bekerja dengan mencatat berbagai parameter seperti kecepatan dan arah angin, suhu, tekanan udara, kelembapan, hingga jarak pandang. Semua data terkini dikirimkan ke observer BMKG setiap 30 menit, lalu diteruskan ke Air Traffic Control (ATC).

“Informasi dari AWOS sangat penting untuk memastikan kondisi cuaca aman bagi penerbangan,” ujar Dwikorita dikutip dari keterangan resmi. Dengan data ini, pengawas lalu lintas udara dapat memberikan arahan yang tepat kepada pilot.

Langkah berikutnya, Dwikorita menuju area Low Level Windshear Alert System (LLWAS) yang juga berada di sekitar Bandara Juanda. Sistem ini dirancang khusus untuk mendeteksi fenomena geser angin atau windshear yang bisa sangat berbahaya, terutama dalam fase kritis take off dan landing. Dengan 10 sensor yang tersebar di area bandara, LLWAS memonitor perubahan arah dan kecepatan angin secara real-time. Ketika potensi windshear terdeteksi, peringatan langsung dikirimkan ke ATC untuk diteruskan kepada pilot.

Bacaan Lainnya

Tak berhenti di sana, Dwikorita melanjutkan inspeksi ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk memeriksa Marine Automatic Weather Station (MAWS). Perangkat ini berfungsi memantau kondisi cuaca maritim di sekitar pelabuhan. Dengan sensor canggih, MAWS mampu mencatat data per menit, termasuk suhu, curah hujan, tinggi permukaan air, arah dan kecepatan angin, hingga suhu permukaan laut.

Data ini sangat penting untuk menjaga keselamatan pelayaran dan kelancaran operasional pelabuhan. Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak, Daryatno, menjelaskan bahwa informasi dari MAWS juga mendukung kegiatan bongkar muat peti kemas, serta keselamatan angkutan barang dan penumpang.

Pos terkait