Anak-anak Sakit karena Gula, Tapi Solusi Masih Diam di Atas Meja

'Teror' diabetes pada anak-anak penyuka manis belum menggerakkan penentu kebijakan untuk mencari pemanis pengganti gula pasir atau gula putih yang lebih sehat. | Ilustrasi dibikin oleh Sora/Samudrafakta

“Kalau stevia diproduksi besar-besaran, industri gula bisa terganggu,” ujar seorang pelaku industri yang enggan disebutkan namanya. “Pemain besar nggak akan tinggal diam.”

Pemerintah: Diam atau Dibelenggu?

Dalam berbagai dokumen perencanaan nasional, isu pengendalian konsumsi gula memang disebut. Tapi pelaksanaan di lapangan tak banyak berubah. Label “rendah gula” masih langka. Subsidi dan proteksi untuk industri gula tetap kuat. Sementara riset dan pengembangan untuk pemanis alternatif seperti stevia minim dukungan.

Padahal, butuh hanya sekitar 300 hektar lahan dan satu pabrik ekstraksi untuk memulai revolusi pemanis sehat di Indonesia. Tapi sampai hari ini, tak satu pun kementerian yang menjadikan ini prioritas.

Bacaan Lainnya

Apakah ini karena kekuatan industri gula terlalu besar untuk disentuh? Atau karena kesehatan publik belum cukup “menguntungkan” untuk diperjuangkan?

Jalan Keluar: Harus Ada Tekanan Publik

Jika tren ini dibiarkan, bukan hanya anak-anak yang jadi korban. Sistem kesehatan akan terbebani. Anggaran negara akan terkuras. Dan Indonesia akan terus bergantung pada komoditas manis yang mematikan secara perlahan.

Solusinya ada, dan sudah tumbuh di tanah kita. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik dan dorongan publik untuk menuntut perubahan. Jika tidak sekarang, kapan lagi kita memilih masa depan yang lebih sehat?

Karena saat negara gagal menyediakan pemanis sehat, masyarakat tak punya pilihan selain tetap sakit.***

Pos terkait