Stevia bisa menggantikan gula. Lebih sehat, malah. Tapi industrinya tak kunjung tumbuh. Siapa diuntungkan jika Indonesia terus impor gula pasir dan sakit?
—Opini Redaksi
Di balik lonjakan kasus diabetes pada anak-anak di Indonesia, ada satu bahan yang terus muncul sebagai tersangka utama: gula putih. Tak terlihat mencolok, tak terdengar bising, tapi dampaknya nyata dan menghantui.
Konsumsi gula di Indonesia terus meningkat, sementara angka diabetes pada anak melonjak hampir 70 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Data terbaru menunjukkan 1.948 anak Indonesia hidup dengan diabetes tipe-1 pada 2023.
Ini bukan hanya masalah kesehatan—ini alarm kegagalan sistem pangan nasional.
Namun pertanyaannya: kenapa tidak ada langkah serius mencari alternatif? Kenapa pemanis sehat seperti stevia, yang sudah terbukti aman dan bisa diproduksi di dalam negeri, masih belum menjadi bagian dari solusi resmi?
Stevia: Harapan yang Tak Diurus
Stevia, tanaman pemanis alami asal Amerika Selatan, sebenarnya tumbuh subur di tanah Indonesia. Setiap hektar lahan bisa menghasilkan 120 kg glikosida steviol per tahun—cukup untuk menjadi bahan baku industri makanan dan minuman rendah kalori.
Bahkan Indonesia sempat mengekspor 1.200 ton daun stevia ke Korea Selatan senilai USD 34 juta. Tapi sampai hari ini, belum ada satu pun pabrik ekstraksi stevia berskala industri di dalam negeri. Kita ekspor daun mentah, lalu impor pemanis jadi.
Logika industri ini nyaris mustahil dipahami jika tidak mempertimbangkan satu hal: ada yang diuntungkan jika Indonesia tetap bergantung pada gula putih.
Gula Putih: Industri Besar, Lobi Besar
Gula bukan sekadar pemanis. Ia adalah komoditas strategis dengan jejaring politik, subsidi pemerintah, dan pasar yang dijaga ketat. Produksi gula konsumsi nasional mencapai 5 juta ton per tahun. Di sisi lain, kebutuhan pemanis alternatif seperti stevia hanya seujung kuku dari angka itu. Maka tidak heran jika pemanis alami tidak dianggap penting.
Beberapa sumber dari lingkungan industri pangan menyebutkan bahwa upaya mendirikan industri ekstraksi stevia sering kandas karena minimnya insentif, kurangnya dukungan regulasi, dan “ketidaktertarikan” investor besar yang sudah nyaman bermain di pasar gula.





