Akademisi Umsura Ingatkan Bahaya Plastik Kemasan bagi Kesehatan

Kemasan plastik
Ilustrasi bungkus plastik. PIXABAY
Masyarakat diminta mewaspadai kode plastik pada kemasan makanan karena risiko pelepasan zat berbahaya seperti BPA dan styrene yang memicu kanker hingga gangguan hormon.

Penggunaan plastik yang berlebihan menyimpan risiko kesehatan serius yang sering kali tidak disadari. Isu ini mencuat di tengah kenaikan harga produk plastik akibat terganggunya impor bahan baku yang dipicu konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dosen Teknologi Laboratorium Medik Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Baterun Kunsah, menekankan pentingnya memahami kode jenis plastik. Menurutnya, karakteristik bahan baku setiap kemasan sangat menentukan tingkat keamanannya bagi kesehatan.

“Cara sederhana untuk menghindari bahaya plastik adalah dengan mengetahui jenis plastik yang digunakan, khususnya pada kemasan makanan dan minuman,” ujar Baterun Kunsah, Dosen Teknologi Laboratorium Medik Umsura, Kamis (16/4/2026).

Bacaan Lainnya
Mengenal Kode dan Risiko Karsinogenik

Jenis plastik yang paling umum adalah PET atau PETE (Polyethylene Terephthalate) pada botol air mineral. Kunsah memperingatkan bahwa botol ini hanya direkomendasikan untuk sekali pakai karena lapisan polimernya dapat terurai jika digunakan secara berulang.

“Botol jenis ini sebenarnya direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jika digunakan berulang kali, lapisan polimernya dapat terurai dan berpotensi bersifat karsinogenik jika terakumulasi dalam tubuh,” jelas Baterun Kunsah, Dosen Teknologi Laboratorium Medik Umsura, Kamis (16/4/2026).

Bahaya lain mengintai dari penggunaan wadah makanan berbahan PS (Polystyrene) atau styrofoam. Plastik jenis ini dapat melepaskan zat styrene saat bersentuhan dengan suhu panas yang berisiko mengganggu fungsi otak, sistem saraf, hingga hormon pada wanita.

Bahaya BPA pada Perlengkapan Bayi

Perhatian khusus juga harus diberikan pada plastik berkode 7 atau kategori lainnya, seperti polycarbonate (PC). Plastik ini sering ditemukan pada galon air dan botol susu bayi yang berisiko melepaskan zat bisphenol-A (BPA) saat terpapar suhu panas.

“Zat ini diketahui dapat mengganggu sistem hormon dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh,” tegas Baterun Kunsah, Dosen Teknologi Laboratorium Medik Umsura, Kamis (16/4/2026). Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan beralih ke wadah kaca atau logam yang lebih stabil.

Langkah sederhana seperti membawa tempat makan sendiri saat membeli hidangan luar dapat menekan paparan kimia berbahaya. Jika terpaksa memanaskan makanan di gelombang mikro, pastikan menggunakan wadah kaca atau plastik berlabel polyethylene yang lebih aman.***

Pos terkait