Tim mahasiswa Unair menciptakan NyxAId, kacamata pintar berteknologi AI generatif untuk memandu tunanetra melakukan pertolongan pertama pada luka secara mandiri.
Keterbatasan akses panduan medis bagi penyandang disabilitas netra mendorong lima mahasiswa Universitas Airlangga merancang kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan generatif. Inovasi ini sukses meloloskan tim ke babak final PIMNAS ke-39.
Alat bantu bertajuk NyxAId tersebut dirancang guna memandu penanganan luka darurat secara mandiri tanpa bergantung pada penglihatan fisik, memadukan perangkat sandang ergonomis dengan pemrosesan basis data klinis.
Panduan Suara Bebas Genggam
Ketua tim pengembang, Gressendy Zahwarani, menjelaskan sistem bekerja secara bebas genggam agar kedua tangan pengguna tetap leluasa membersihkan dan membalut cedera saat insiden berlangsung.
“Fokus kami adalah memberikan dukungan informasi awal yang inklusif lewat suara. Smart glasses dipilih agar pengguna bebas memanfaatkan kedua tangannya saat menangani luka,” kata Gressendy di Surabaya, Jumat, 30 Oktober 2026.
Kamera pada kacamata menangkap visual cedera lalu dicocokkan oleh kecerdasan buatan ke protokol medis pertolongan pertama. Hasil analisis tersebut seketika dikonversikan menjadi instruksi audio langkah demi langkah.
Tantangan Perangkat Keras dan Kecerdasan Buatan
Kolaborasi mahasiswa Fakultas Vokasi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat ini menitikberatkan integrasi perangkat lunak dan keras agar kacamata tetap ringan, kompak, serta presisi saat mendiagnosis luka.
Menjelang panggung final ilmiah nasional, tim mematangkan pengujian prototipe melalui pemusatan latihan intensif guna memastikan kesiapan teknologi sebelum diproduksi massal sebagai alat bantu medis inklusif. ***





