Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membongkar pakem penyaluran bantuan bedah rumah. Pemerintah daerah tidak lagi menjadikan data desil sebagai patokan tunggal.
Wali Kota Pemerintah Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bantuan renovasi rumah tidak layak huni tidak semata berpatokan pada data desil. Buktinya, lansia bernama Sumaiyah tetap dibantu meski masuk Desil 4.
Mengenai temuan tersebut, kondisi Sumaiyah di Kelurahan Wonorejo diketahui dari laporan warga lewat layanan pengaduan. Rumah lansia yang tinggal sebatang kara itu rusak parah dan mendesak diperbaiki.
“Akhirnya saya putuskan karena dia lansia dan tinggal sendiri, saya turun langsung. Karena rumah ini tidak mungkin ada yang memperbaiki,” kata Eri Cahyadi di Surabaya pada Minggu, 13 September 2026.
Anomali Data Desil
Terkait posisi desil, Eri memaparkan data Badan Pusat Statistik kerap dipengaruhi daya listrik dan kepemilikan aset. Listrik 900 volt ampere dan status rumah hak milik otomatis mendongkrak peringkat ke Desil 4.
Fakta ini memaksa pemerintah daerah lebih jeli melihat kondisi riil di lapangan. Penilaian mutlak berbasis angka berpotensi mencoret warga miskin yang tak berdaya memperbaiki huniannya secara mandiri.
“Tidak semua orang yang masuk Desil 4 atau Desil 5 dan tidak mendapatkan bantuan itu berarti tidak perlu dibantu. Bisa saja mereka tetap harus mendapatkan bantuan,” kata Eri Cahyadi.
Teknis Pengerjaan Atap
Menyangkut teknis perbaikan, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan Kota Surabaya Iman Krestian segera menerjunkan tim. Konstruksi atap rumah yang rapuh menjadi fokus utama.
Selain itu, petugas dinas akan merenovasi tata letak ruangan untuk meningkatkan kenyamanan sang lansia. Pemkot Surabaya menjadikan kampung Wonorejo ini sebagai model percontohan pengawasan warga.
“Perbaikannya nanti akan kita lakukan peninggian lantai dan perbaikan toilet. Kita tinggikan atapnya termasuk nanti begitu lantai dinaikkan, kusen-kusen semua akan kita tinggikan,” kata Iman Krestian.***





