MSCI akan mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dari MSCI Indonesia Index setelah likuiditasnya merosot dan harga saham tertahan di batas bawah Rp50. Nilai pasar GOTO menyusut sekitar USD25,8 miliar dari puncaknya.
MSCI memutuskan mencoret saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO dari MSCI Indonesia Index dalam evaluasi berkala Agustus 2026. Perubahan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
Keputusan itu menandai penurunan posisi GOTO di pasar modal sejak perusahaan teknologi tersebut pernah menyandang predikat sebagai salah satu emiten dengan nilai pasar terbesar di Indonesia.
Kapitalisasi pasar GOTO disebut pernah mencapai sekitar USD29 miliar. Kini nilainya tinggal sekitar USD3,2 miliar atau menyusut USD25,8 miliar. Secara persentase, nilai pasar perusahaan telah tergerus sekitar 89 persen.
Likuiditas Memburuk sejak Mei
Pencoretan GOTO tidak terjadi secara tiba-tiba. MSCI telah membekukan seluruh perubahan terhadap saham tersebut sejak akhir Mei 2026 karena persoalan likuiditas.
Dalam pengumuman pada 26 Mei 2026, MSCI menyatakan rendahnya transaksi GOTO berpotensi menimbulkan masalah dalam replikasi indeks. Persoalan itu muncul setelah harga saham GOTO bertahan di Rp50 sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.
Harga Rp50 merupakan batas terendah yang diperbolehkan di papan perdagangan utama Bursa Efek Indonesia. Kondisi itu membuat pengelola dana berbasis indeks berisiko kesulitan memperjualbelikan saham GOTO dalam jumlah yang diperlukan untuk mengikuti perubahan komposisi indeks.
MSCI ketika itu memilih mempertahankan GOTO untuk sementara. Namun, lembaga tersebut membekukan perubahan jumlah saham, faktor kepemilikan asing, serta sejumlah parameter lain.
MSCI juga memperingatkan bahwa saham GOTO akan dikeluarkan dalam evaluasi Agustus apabila gagal memenuhi persyaratan likuiditas. Hasil evaluasi terbaru menunjukkan saham tersebut tidak lagi dipertahankan.
Berpotensi Memicu Penyesuaian Portofolio
Sebelum pencoretan, GOTO masih memiliki bobot sekitar 4,22 persen dalam MSCI Indonesia Index berdasarkan data per 31 Juli 2026. Saham tersebut menjadi konstituen terbesar ketujuh dalam indeks yang mengukur kinerja saham berkapitalisasi besar dan menengah di Indonesia.





