Kekerasan seksual oleh anggota keluarga menghancurkan proses perkembangan anak. Lingkungan terdekat wajib menciptakan ruang aman agar korban berani bersuara.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Primatia Yogi Wulandari memandang pelecehan seksual dalam keluarga berdampak fatal pada kondisi psikologis anak. Pelaku kerap memanfaatkan ketimpangan kuasa untuk menjerat korban.
Mengenai dinamika tersebut, kedekatan hubungan kekerabatan tidak otomatis menjamin keamanan bagi anak. Perbedaan usia dan otoritas dengan orang dewasa justru menciptakan kerentanan yang dimanfaatkan pelaku untuk mengkhianati kepercayaan korban.
“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung,” kata Primatia Yogi Wulandari pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Ancaman Krisis Kepercayaan
Dampak pengkhianatan ini membuat korban rentan mengalami krisis kepercayaan atau kesulitan menjalin hubungan sosial saat remaja. Sebagian anak menunjukkan perubahan perilaku drastis, mulai dari rasa takut hingga kesulitan berkonsentrasi.
Terkait upaya pencegahan, pendidikan batasan privasi dan persetujuan tubuh perlu dikenalkan sejak dini. Perlindungan anak juga mencakup pemahaman bahwa mereka berhak menjaga batasan tubuhnya meskipun berhadapan dengan orang yang dikenal.
Upaya pemulihan menuntut tanggung jawab bersama dari lingkungan keluarga dan sekolah. Orang dewasa dituntut merespons keluhan anak secara suportif guna membantu memulihkan luka psikologis akibat insiden tersebut.
“Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” kata Primatia.***





