Prabowo bilang ada “tamu tak tahu diri” yang datang berdagang, lama-lama merampok. Ternyata pola itu sudah lama diakui sendiri oleh mantan “economic hit man” AS — dan datanya masih terlihat di proyek-proyek Indonesia hari ini.
Presiden Prabowo Subianto punya satu analogi yang langsung jadi bahan obrolan minggu ini.
Di Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, GBK, ia bicara soal bangsa yang terlalu ramah — sampai rela berutang gula dan kopi ke tetangga demi menjamu tamu.
Lalu ia menambahkan sindiran yang jadi viral: ada tamu yang datang tanpa diundang, mengaku mau berdagang, tapi ujung-ujungnya merampok tuan rumahnya.
Pernyataan itu disampaikan dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, GBK, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Prabowo tidak menyebut nama negara atau pihak tertentu.
Tapi kalau ada satu buku yang bisa menjelaskan secara telanjang bagaimana pola “tamu berdagang lalu merampok” itu pernah terjadi di Indonesia. Buku itu adalah Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins.
Ekonom yang Dilatih untuk “Menyelamatkan” Indonesia
Perkins bukan orang luar yang menuduh dari kejauhan. Ia orang dalam.
Dalam bukunya, ia bercerita bagaimana pada awal 1970-an ia direkrut sebagai economic hit man — pekerjaan berlabel resmi ekonom di perusahaan konsultan bernama MAIN.
Tugas sesungguhnya adalah menyusun proyeksi pertumbuhan ekonomi yang sengaja dibuat terlalu optimistis untuk negara berkembang yang kaya sumber daya alam.
Targetnya waktu itu Pulau Jawa. Alasan resminya: membangun rencana induk kelistrikan untuk pulau berpenduduk terpadat di dunia itu.
Alasan sesungguhnya, seperti diakui atasannya sendiri dalam buku itu, jauh lebih besar: mengamankan Indonesia dari pengaruh komunis.
Sekaligus memastikan industri minyak dan infrastruktur pendukungnya — pelabuhan, pipa, perusahaan konstruksi — mendapat pasokan listrik penuh selama seperempat abad ke depan.
Caranya sederhana tapi efektif: proyeksi ekonomi digelembungkan supaya terlihat masuk akal untuk mengambil pinjaman raksasa dari lembaga pembangunan internasional.
Semakin besar angka proyeksi, semakin besar pula pinjaman yang bisa “dibenarkan” — dan semakin besar pula utang yang harus ditanggung negara penerima, jauh melampaui kemampuan bayarnya.
Ketika negara itu akhirnya terjebak utang, di situlah pengaruh mulai dipetik: dukungan di forum internasional, akses sumber daya, sampai kedekatan politik.
Yang menarik, Perkins sendiri mengaku gelisah dengan apa yang ia kerjakan.
Ia menceritakan momen ditegur anak-anak muda Indonesia di sebuah kedai kopi di Bandung, yang menyindirnya bekerja untuk Bank Dunia dan USAID.
Momen itu terjadi sambil menyaksikan pertunjukan wayang yang menyindir bagaimana negara seperti Indonesia diperlakukan sekadar seikat anggur yang bisa dipetik sesuka hati — dipertahankan kalau menguntungkan, dibuang kalau sudah tidak perlu.





