Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan tinjauan enam bulan terhadap postur militer di Eropa. Negara yang gagal bisa kehilangan perlindungan AS, sementara Indonesia justru dipuji sebagai mitra ideal.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengumumkan tinjauan besar-besaran terhadap kehadiran militer AS di Eropa dalam pertemuan menteri pertahanan NATO di Brussels, Kamis (18/6/2026). Tinjauan selama enam bulan itu akan menentukan nasib ribuan tentara Amerika yang masih berdinas di kawasan tersebut.
“Ini review yang sungguhan. Dirancang agar NATO bergerak cepat dan tidak bisa berbalik — dengan Eropa memimpin dan mengambil alih tanggung jawab utama atas pertahanannya sendiri,” kata Hegseth, sebagaimana dilaporkan NPR.
Hegseth tidak menyembunyikan nada ancaman. “Review ini akan dijalani sebagian negara dengan nilai terbaik, sebagian lainnya akan gagal,” tegasnya.
Ia mengkritik sejumlah sekutu yang menolak memberikan akses pangkalan untuk operasi militer AS saat menyerang Iran. “Memalukan. Sekutu-sekutu ini menempatkan putra-putri Amerika pada risiko dengan menolak akses pangkalan yang seharusnya tidak pernah dipertanyakan,” katanya.
Visi “NATO 3.0”
Hegseth menyerukan NATO kembali menjadi aliansi militer garis keras dengan kemampuan tempur nyata. “NATO 3.0 merupakan pengakuan pasca-Perang Dingin bahwa aliansi ini perlu kembali menjadi aliansi militer yang sesungguhnya,” ujarnya.
Inisiatif itu pertama kali diperkenalkan pada Februari 2026 oleh Wakil Menteri Kebijakan Pertahanan Elbridge Colby, yang menyatakan sudah saatnya negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab utama pertahanan mereka sendiri.
Pengumuman ini datang menjelang KTT NATO di Ankara bulan depan. Sebagai sinyal konkret, Pentagon telah menarik 5.000 tentara dari Jerman pada Mei lalu — langkah yang menuai penolakan lintas partai di Kongres AS.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menepis klaim bahwa Eropa lalai. Ia menyebut anggota NATO dan Kanada telah mengeluarkan USD90 miliar lebih untuk pertahanan tahun lalu, naik 20 persen dibanding 2024.
Namun Hegseth tak bergeming. Ia bahkan menyebut kontribusi dua persen PDB yang selama ini menjadi standar NATO sebagai bentuk menumpang gratis atas kemampuan militer AS. Negeri Paman Sam membelanjakan sekitar USD845 miliar untuk pertahanan tahun lalu, jauh melampaui total USD559 miliar dari seluruh anggota NATO gabungan.





