Pakai Warna Cerah demi Kesehatan Mental? Ini Penjelasan ‘Dopamine Dressing’

Ilustrasi dopamine dressing, praktik memilih pakaian bermakna untuk membantu membangun suasana hati positif.
Bukan sekadar soal penampilan — dopamine dressing diklaim mampu mengangkat suasana hati. Tapi benarkah ada sains di baliknya, atau ini cuma tren fashion biasa?

Di tengah meningkatnya tren kesehatan mental, muncul pendekatan baru yang tidak melibatkan meditasi maupun terapi — melainkan lemari pakaian.

Dopamine dressing adalah praktik memilih pakaian secara sengaja untuk memicu perasaan positif, bukan sekadar menutup tubuh atau mengikuti tren. Konsep ini telah berkembang dari fenomena pasca-pandemi menjadi filosofi gaya hidup yang kini ramai diperbincangkan di media sosial global maupun Indonesia.

Bacaan Lainnya

Di Indonesia, lonjakan konten outfit warna-warni di TikTok menandai makin populernya tren ini di kalangan anak muda. Seiring itu, era quiet luxury — dominasi warna krem, abu-abu pucat, dan estetika minimalis — mulai memudar digantikan ekspresi yang lebih berani dan berwarna.

Apa Dasarnya secara Ilmiah?

Landasan dopamine dressing bukan sekadar selera visual. Konsep ini berpijak pada teori psikologi bernama enclothed cognition (kognisi berbusana) — gagasan bahwa pakaian yang kita kenakan secara nyata mengubah cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku.

Studi Adam dan Galinsky (2012) menunjukkan bahwa peserta yang mengenakan jas dokter tampil lebih baik dalam uji perhatian dibanding peserta yang memakai jas pelukis — meski jenis jasnya identik. Yang berbeda hanya makna simbolis yang melekat pada pakaian tersebut.

Dari situlah kaitannya dengan dopamin. Dopamin adalah senyawa kimia otak yang berperan dalam perasaan senang, motivasi, dan keseimbangan emosional. Memakai pakaian yang secara pribadi bermakna — bukan harus warna mencolok — dapat memicu respons otak yang meningkatkan suasana hati.

Psikolog klinis Dawnn Karen menyatakan bahwa pakaian yang mencerminkan identitas seseorang menghadirkan validasi diri, dan validasi itulah yang memicu dopamin.

Bukan Hanya soal Warna

Kesalahpahaman umum tentang dopamine dressing adalah mengaitkannya semata dengan warna cerah. Padahal, intinya adalah kenyamanan pribadi dan makna yang melekat pada pakaian tersebut.

Psikologi warna memang berperan: merah dan oranye cenderung meningkatkan energi; biru dan hijau mendorong ketenangan. Namun tekstur yang lembut, siluet yang terstruktur, atau bahkan jaket lama yang menyimpan kenangan bahagia dapat menghasilkan efek yang sama.

Di Indonesia, tren ini juga bisa dimaknai melalui batik — kain yang menyimpan nilai budaya sekaligus estetika warna yang kaya. Memadukan batik dengan gaya kekinian bisa menjadi bentuk dopamine dressing yang paling relevan secara lokal.

Pos terkait