Program SMK 3+1 menambah satu tahun masa belajar untuk menyiapkan bahasa, mental, budaya kerja, dan perlindungan hukum murid sebelum bekerja di luar negeri.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 untuk menyiapkan lulusan SMK menembus pasar kerja global. Program ini menjadi jembatan baru bagi murid vokasi agar lebih siap bekerja ke luar negeri lewat jalur resmi.
Peluncuran program berlangsung di Islamic Center Surabaya, Rabu, 20 Mei 2026, bersamaan dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus dan pelatihan untuk bekerja di luar negeri.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, program ini dirancang untuk memperluas peluang kerja lulusan SMK sekaligus memperkuat keselarasan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri global.
“Program ini menambah masa belajar satu tahun untuk membekali murid secara utuh, mulai dari bahasa asing dan budaya kerja yang disiapkan untuk mencapai standar negara tujuan,” kata Tatang dalam sosialisasi program, Kamis, 26 Maret 2026.
Tambahan Satu Tahun
Skema 3+1 berarti murid tetap mengikuti tiga tahun pembelajaran sesuai kurikulum nasional. Setelah itu, mereka mendapat tambahan satu tahun untuk memperkuat kompetensi keahlian, bahasa asing, budaya kerja, hukum negara tujuan, serta hak dan perlindungan pekerja migran.
Kemendikdasmen menyebut program ini hadir karena banyak lulusan SMK sebenarnya memiliki kemampuan teknis, tetapi masih menghadapi kendala adaptasi budaya, bahasa, dan biaya persiapan kerja luar negeri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan program 3+1 menjadi bagian dari penyiapan lulusan SMK agar dapat masuk dunia kerja, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kemitraan dengan perusahaan dan lembaga penempatan menjadi salah satu kunci pelaksanaannya.
“Mereka bisa belajar dari SMK tiga tahun kemudian menambah satu tahun untuk penyiapan masuk dunia kerja dengan kemitraan perusahaan dan juga kemitraan berbagai agensi baik yang ada di dalam maupun di luar negeri,” kata Abdul Mu’ti.
Jalur Resmi ke Luar Negeri
Program ini sedikitnya telah diterapkan di 49 SMK di Indonesia. Setiap sekolah pelaksana diharapkan mengintegrasikan dimensi kebekerjaan luar negeri ke dalam kurikulum satuan pendidikan, termasuk pelatihan bahasa, mental, dan kesiapan budaya kerja.





