Studi: Padi Terancam Punah, Suhu Bumi Naik Terlalu Cepat

Ilustrasi pemanasan global melesat 5.000 kali lebih cepat dari evolusi padi. Ancaman krisis pangan dan kiamat padi tinggal menunggu waktu. AI Generate
Laju pemanasan bumi diproyeksikan 5.000 kali lebih cepat dari kemampuan evolusi padi — mengancam ketahanan pangan miliaran orang di Asia, termasuk Indonesia.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment membunyikan alarm keras bagi ketahanan pangan dunia. Pemanasan global diproyeksikan berlangsung pada laju yang 5.000 kali lebih cepat daripada kemampuan padi dan tanaman pangan lain untuk berevolusi dalam 50 tahun ke depan.

Temuan ini dipimpin Nicolas Gauthier, Kurator Kecerdasan Buatan di Florida Museum of Natural History, University of Florida, bersama timnya yang menggabungkan data arkeologi, catatan budidaya padi kontemporer, dan proyeksi iklim masa depan.

Batas Termal 9.000 Tahun yang Kini Terancam

Selama 9.000 tahun sejak domestikasi pertama di lembah Sungai Yangtze, China, padi Asia (Oryza sativa) selalu dibudidayakan dalam koridor suhu yang sangat ketat.

Bacaan Lainnya

Studi ini menemukan bahwa sepanjang sejarah, budidaya padi hampir selalu terbatas pada wilayah dengan suhu tahunan rata-rata di bawah 28°C dan suhu maksimum musim panas di bawah 33°C. Batas ini tidak pernah bergeser meski padi telah menyebar ke berbagai penjuru bumi.

Kini, batas itu mulai goyah. Proyeksi iklim menunjukkan bahwa pada 2070, luas lahan di negara-negara penghasil padi Asia yang melampaui ambang suhu tersebut berpotensi meluas hingga 10–30 kali lipat dibanding kondisi saat ini.

“Di ujung panas, tidak ada fleksibilitas seperti itu, karena pada titik tertentu tanaman akan berhenti berfungsi secara fisik,” kata Gauthier.

Indonesia dan Malaysia Paling Berisiko

Dampaknya tidak merata. Gauthier secara eksplisit menyebut wilayah selatan seperti Indonesia dan Malaysia sebagai kawasan yang akan paling parah terdampak, dan proses adaptasinya berpotensi meninggalkan banyak orang tanpa solusi.

Paparan suhu ekstrem merusak viabilitas serbuk sari padi, mengganggu penyerbukan, dan menggagalkan pembentukan bulir. Pergeseran musim hujan yang tak menentu serta kenaikan permukaan air laut yang mendorong intrusi air asin ke sawah dataran rendah memperparah ancaman ini.

Pos terkait