Pagi di Dukuh Kaligandu, Desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, berjalan seperti biasa. Embun masih menempel di rerumputan ketika Surati membuka kandang sapinya satu per satu. Tidak ada yang benar-benar berbeda dari rutinitas petani sederhana itu. Rumput dipotong, air disiapkan, lalu dedak dicampur secukupnya untuk pakan ternak.
Namun siapa sangka, salah satu sapi di kandang miliknya kini menjadi perhatian hingga tingkat nasional.
Seekor sapi jumbo jenis limosin jantan berbobot sekitar 1,1 ton milik Surati dipilih menjadi kandidat hewan kurban bantuan Presiden RI Prabowo Subianto untuk masyarakat Kabupaten Blora menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
Sapi raksasa itu dipelihara Surati selama hampir lima tahun. Yang menarik, tidak ada perlakuan istimewa dalam perawatannya. “Hanya diberi makan rumput seadanya dan minum campuran dedak,” ujar Surati dikutip dari laman Blora Kab, Selasa (12/5/2026).
Jawaban sederhana itu justru menggambarkan realitas peternak rakyat di Blora. Di tengah keterbatasan, mereka mampu menghasilkan ternak berkualitas tinggi yang bahkan memenuhi standar hewan kurban kepresidenan.
Dari Kandang Desa ke Seleksi Kurban Presiden
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Rasmiyana, menjelaskan bahwa sapi milik Surati dipilih karena memenuhi berbagai syarat ketat dari pemerintah pusat.
Mulai dari kesehatan, bobot, usia, hingga kondisi fisik hewan. “Sapi yang dibeli merupakan jenis limosin jantan dengan bobot sekitar 1.100 kilogram dan berumur kurang lebih lima tahun,” jelas Rasmiyana kepada Antara, akhir April 2026 lalu.
Selain harus jantan, sapi kurban bantuan presiden juga tidak boleh cacat fisik, tidak pincang, telinga utuh, serta memiliki organ reproduksi yang normal.
Bagi Blora, terpilihnya sapi milik peternak lokal bukan sekadar seremoni tahunan. Ada dampak ekonomi yang ikut bergerak. Pembelian sapi langsung dari peternak desa menjadi bentuk dukungan nyata terhadap sektor peternakan rakyat.
Program seperti ini membuka peluang bagi peternak untuk meningkatkan kualitas ternak sekaligus nilai jual sapi mereka. Apalagi permintaan sapi berbobot jumbo terus meningkat menjelang Iduladha.
Blora dan Tradisi Peternakan Sapi
Kabupaten Blora selama ini dikenal sebagai salah satu daerah pemasok sapi di Jawa Tengah. Tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, ribuan sapi dari Blora juga dikirim ke berbagai daerah setiap tahun, terutama saat musim kurban.
Di kandang Surati sendiri, terdapat empat ekor sapi limosin yang dipeliharanya bersama keluarga. Bagi sebagian peternak di Blora, beternak sapi bukan sekadar pekerjaan tambahan. Hewan ternak menjadi tabungan hidup yang nilainya terus berkembang.
Karena itu, perawatan kesehatan ternak menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menjelang Iduladha, DP4 Blora mengintensifkan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) guna memastikan kesehatan hewan kurban tetap aman.
Vaksin PMK Digencarkan
Rasmiyana mengatakan, vaksinasi PMK terus dipercepat karena mobilitas ternak menjelang Iduladha biasanya meningkat tajam. “DP4 Blora menyiapkan langkah percepatan vaksinasi PMK serta memastikan ternak yang akan dimanfaatkan untuk kurban mendapatkan vaksin guna mencegah penyebaran,” ujarnya.
Pada 2026, Kabupaten Blora memperoleh alokasi sekitar 60 ribu dosis vaksin PMK dari pemerintah pusat. Hingga April, sekitar 9 ribu dosis telah disuntikkan kepada ternak milik peternak maupun pedagang sapi. Meski demikian, jumlah itu masih jauh dari total populasi sapi di Blora yang mencapai sekitar 176 ribu ekor.
Menurut Rasmiyana, kasus PMK di Blora masih terkendali. Hingga April tercatat sekitar 30 kasus tanpa laporan kematian ternak. Faktor utama penyebaran biasanya berasal dari mobilitas pedagang dan keluar-masuknya sapi baru dari pasar hewan. Karena itu, pengawasan kesehatan ternak kini diperketat, terutama terhadap sapi yang akan digunakan untuk kurban.
Kebanggaan Peternak Lokal
Bagi Surati, terpilihnya sapi miliknya menjadi kandidat kurban Presiden bukan hanya soal harga jual. Ada rasa bangga karena hasil jerih payah peternak desa mendapat pengakuan hingga tingkat nasional.
Di balik tubuh raksasa sapi limosin itu, ada kisah tentang ketelatenan petani desa, tradisi beternak turun-temurun, dan harapan agar peternakan rakyat terus bertahan di tengah tantangan zaman. Kini, sambil menunggu Iduladha tiba, sapi jumbo tersebut terus dirawat secara intensif agar kondisinya tetap sehat hingga hari penyembelihan.
Dari kandang sederhana di pelosok Blora, seekor sapi 1,1 ton menjadi simbol bahwa peternak lokal pun mampu menghasilkan ternak berkualitas terbaik untuk masyarakat Indonesia.





