Enam dekade sebelum Amerika Serikat membuka arsip resmi fenomena udara tak dikenal, militer Indonesia sudah pernah menghujani objek-objek misterius itu dengan meriam artileri — dan tidak ada satu pun yang berhasil dijatuhkan.
Ketika Pentagon merilis 162 file rahasia tentang Unidentified Anomalous Phenomena (UAP) pada 8 Mei 2026, dunia seolah baru tersadar bahwa pemerintah-pemerintah besar menyimpan catatan panjang soal benda-benda tak teridentifikasi di langit mereka.
Tapi, bagi Indonesia, cerita itu sudah dimulai jauh lebih awal — dan jauh lebih dramatis.
Papua Nugini, 1959: Ketika Makhluk Itu Membalas Lambaian
Pada 26–27 Juni 1959, seorang pendeta Anglikan bernama William B. Gill bersama 37 anggota misinya di Boianai, Papua Nugini (PNG) — yang saat itu masih wilayah Australia — melaporkan penampakan benda terbang aneh selama dua malam berturut-turut. Sekitar 25 warga lokal, termasuk guru dan tenaga medis, turut menjadi saksi.
Peristiwa ini kelak dikenal sebagai The Boianai Visitants of 1959, dan dianggap sebagai salah satu laporan entitas UFO paling kredibel dalam sejarah pencatatan fenomena ini. Yang membuat kasus ini luar biasa: para saksi melaporkan makhluk humanoid di atas benda terbang itu, dan ketika para penduduk memberi isyarat ke arah mereka, makhluk-makhluk itu membalas.
Objek yang dilaporkan berbentuk lonjong berwarna putih bersinar, dengan kilasan biru panjang di bagian belakangnya saat terbang — mirip contrail pesawat biasa. Dalam buku Menjingkap Rahasia Piring Terbang karya Jacob Salatun, Gill dikutip menyebut laporan-laporan serupa terus berdatangan dari berbagai penjuru PNG selama berbulan-bulan, dari saksi-saksi yang dinilai dapat dipercaya.

Menariknya, dokumen Departemen Luar Negeri AS yang baru dirilis Pentagon justru menyertakan kabel diplomatik dari Papua Nugini sebagai salah satu sumbernya — mengonfirmasi bahwa Washington sudah lama mencatat laporan dari kawasan yang sama.
Selandia Baru, Juli 1959: UFO di Kebun Sapi
Selang beberapa minggu kemudian, pada 13 Juli 1959 pukul 05.50 pagi, seorang ibu rumah tangga bernama Frederick Moreland di Blenheim, Selandia Baru, pergi ke gudang untuk memerah susu. Di situlah ia melihat dua cahaya hijau turun dari balik awan mendung, mendekatinya dengan cepat.
Moreland berlari ke balik pepohonan. Dari sana ia menyaksikan benda berbentuk piring dengan dua sumber cahaya hijau sangat terang di bagian bawahnya, melayang sekitar empat meter dari tanah, pada jarak tidak lebih dari 45 meter darinya. Benda itu berdiameter sekitar enam hingga sembilan meter, dengan dua deret lubang di sekelilingnya yang “menembakkan api oranye” sambil berputar berlawanan arah.

Di dalam kubah transparan benda itu, Moreland mengaku melihat dua sosok berpakaian ketat mengkilap seperti aluminium foil, mengenakan helm yang tersambung langsung dari bahu. Setelah satu-dua menit, benda itu miring sedikit, lalu melesat vertikal ke atas dan menghilang ke dalam awan — meninggalkan bau aneh menyerupai lada di udara.
Moreland melapor ke polisi. Penyelidikan resmi dilakukan, termasuk oleh Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru (RNZAF). Laporan itu mendapat liputan luas di media nasional.
Surabaya, September 1964: Meriam Dikerahkan, UFO Tak Mempan
Peristiwa paling dramatis terjadi di Indonesia sendiri. Dalam situasi Operasi Dwikora — konfrontasi Indonesia melawan Malaysia yang didukung Inggris dan Amerika — langit Surabaya tiba-tiba dipenuhi benda-benda terbang tak dikenal mulai 18 September 1964.
Selama tujuh malam berturut-turut hingga 24 September, objek-objek itu muncul setiap malam dan menghilang menjelang fajar. Mereka terdeteksi secara bersamaan oleh radar dan mata telanjang — masuk kategori fenomena Radar-Visual Sightings (RV) yang paling sulit dibantah. Penampakan terjadi di segitiga wilayah: Surabaya, Malang, dan Bangkalan, Madura.
Karena Indonesia sedang dalam status siaga tempur, militer bereaksi dengan cara militer: menembak. Satuan Artileri Sasaran Udara (ARSU) Kodam VIII Brawijaya menghujani objek-objek itu dengan tembakan meriam artileri pertahanan udara. Hasilnya nol — tidak satu pun berhasil dijatuhkan. Lebih buruk lagi, pecahan peluru justru mengenai warga sipil di Sidoarjo yang sedang duduk di luar rumah.
Catatan Jacob Salatun, mantan Kepala LAPAN yang mengabadikan peristiwa ini dalam bukunya UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini (1982), menyebut bahwa saat tembakan kita mengenai sasaran, objek-objek itu langsung mengubah ketinggiannya. Mereka terbang rendah — hanya sekitar 1.200 meter — namun tetap tidak bisa dijatuhkan.
Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) mengeluarkan rilis resmi pada 29 September 1964, menyimpulkan objek-objek itu adalah pesawat tak berawak musuh yang menjalankan perang urat saraf. Pejabat Presiden Dr. J. Leimena turun tangan meminta masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan tafsiran liar.
Namun kesimpulan resmi itu dibantah oleh militer sendiri dari sudut teknis. Panglima Kohanudnas saat itu kemudian mencatat bahwa objek-objek itu terbang terlalu rendah untuk menjadi pesawat U-2 milik AS yang biasa digunakan CIA — pesawat itu berbahaya jika terbang rendah karena kecepatannya tidak memadai.
Marskal Udara Roesmin Noerjadin, yang menjabat Kasau pada 1966–1969, kemudian merangkum situasi itu dalam surat bertanggal 5 Mei 1967: “UFOs sighted in Indonesia are identical with those sighted in other countries. Sometimes they pose a problem for our Air Defence and once we were obliged to open fire on them.”
Pola yang Sama, Enam Dekade Berbeda
Apa yang terjadi di atas langit PNG, Selandia Baru, dan Jawa Timur pada 1959–1964 memiliki kesamaan mencolok dengan apa yang kini didokumentasikan Pentagon dalam program PURSUE: penampakan terkonsentrasi di zona militer aktif, objek yang menunjukkan kemampuan manuver di luar teknologi konvensional, dan laporan dari saksi-saksi berlatar belakang profesional yang sulit diabaikan.
Bedanya: AS kini membuka arsipnya. Indonesia, hingga hari ini, belum punya program serupa — meskipun catatannya sudah ada sejak 1960-an, tersimpan rapi dalam buku-buku Jacob Salatun yang belum pernah menjadi kebijakan resmi negara.
Pertanyaannya bukan lagi apakah fenomena ini pernah terjadi di wilayah kita. Pertanyaannya adalah: apakah Indonesia akan ikut membuka arsip-arsipnya sendiri?
__________________________
Daftar Rujukan
- Salatun, J. (1960). Menjingkap Rahasia Piring Terbang. Jakarta.
- Salatun, J. (1982). UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini. Jakarta: Yayasan Idayu.
- Chalker, B. (1992). The Oz Files. Dikutip dalam: The Black Vault Case Files — Father Gill 1959 Papua New Guinea UFO Sighting. https://www.theblackvault.com/casefiles/father-gill-1959-papua-new-guinea-ufo-sighting/
- UFO Evidence. (t.t.). Father Gill / Papua New Guinea Sighting — June 26, 1959. http://www.ufoevidence.org/cases/case67.htm
- Kompas.com. (27 Agustus 2023). Cerita TNI “Diganggu” UFO saat Operasi Dwikora. https://nasional.kompas.com/read/2023/08/27/07000061/cerita-tni-diganggu-ufo-saat-operasi-dwikora
- Merdeka.com. (2023). Misteri Kemunculan ‘UFO’ di Surabaya, Dihujani Tembakan oleh Meriam TNI Tak Mempan. https://www.merdeka.com/histori/misteri-kemunculan-ufo-di-surabaya-dihujani-tembakan-oleh-meriam-tni-tak-mempan.html
- Liputan6.com. (30 Mei 2016). Kisah Baku Tembak Antara UFO dan Tentara di Indonesia. https://www.liputan6.com/citizen6/read/2518872/kisah-baku-tembak-antara-ufo-dan-tentara-di-indonesia
- BETA UFO Indonesia. (10 Agustus 2022). Pemunculan UFO secara massal pada masa Dwikora, September 1964. https://betaufo.id/ufo-muncul-saat-dwikora-surabaya-september-1964/
- Warta Bulukumba / Pikiran Rakyat. (2022). Peristiwa ‘UFO Dwikora’ tahun 1964. https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/literatur/pr-873478441/peristiwa-ufo-dwikora-tahun-1964-tni-menembaki-piring-terbang-di-surabaya-dengan-artileri-pertahanan-udara
- Wikipedia Bahasa Indonesia. Roesmin Noerjadin. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Roesmin_Noerjadin
- Samudrafakta.com. (23 April 2024). Fakta-Fakta Penampakan Terduga UFO: Dari Papua Nugini hingga Jawa Timur. https://samudrafakta.com/fakta-fakta-penampakan-terduga-ufo-dari-papua-nugini-hingga-jawa-timur/3/





