Catatan Jacob Salatun, mantan Kepala LAPAN yang mengabadikan peristiwa ini dalam bukunya UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini (1982), menyebut bahwa saat tembakan kita mengenai sasaran, objek-objek itu langsung mengubah ketinggiannya. Mereka terbang rendah — hanya sekitar 1.200 meter — namun tetap tidak bisa dijatuhkan.
Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) mengeluarkan rilis resmi pada 29 September 1964, menyimpulkan objek-objek itu adalah pesawat tak berawak musuh yang menjalankan perang urat saraf. Pejabat Presiden Dr. J. Leimena turun tangan meminta masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan tafsiran liar.
Namun kesimpulan resmi itu dibantah oleh militer sendiri dari sudut teknis. Panglima Kohanudnas saat itu kemudian mencatat bahwa objek-objek itu terbang terlalu rendah untuk menjadi pesawat U-2 milik AS yang biasa digunakan CIA — pesawat itu berbahaya jika terbang rendah karena kecepatannya tidak memadai.
Marskal Udara Roesmin Noerjadin, yang menjabat Kasau pada 1966–1969, kemudian merangkum situasi itu dalam surat bertanggal 5 Mei 1967: “UFOs sighted in Indonesia are identical with those sighted in other countries. Sometimes they pose a problem for our Air Defence and once we were obliged to open fire on them.”
Pola yang Sama, Enam Dekade Berbeda
Apa yang terjadi di atas langit PNG, Selandia Baru, dan Jawa Timur pada 1959–1964 memiliki kesamaan mencolok dengan apa yang kini didokumentasikan Pentagon dalam program PURSUE: penampakan terkonsentrasi di zona militer aktif, objek yang menunjukkan kemampuan manuver di luar teknologi konvensional, dan laporan dari saksi-saksi berlatar belakang profesional yang sulit diabaikan.
Bedanya: AS kini membuka arsipnya. Indonesia, hingga hari ini, belum punya program serupa — meskipun catatannya sudah ada sejak 1960-an, tersimpan rapi dalam buku-buku Jacob Salatun yang belum pernah menjadi kebijakan resmi negara.
Pertanyaannya bukan lagi apakah fenomena ini pernah terjadi di wilayah kita. Pertanyaannya adalah: apakah Indonesia akan ikut membuka arsip-arsipnya sendiri?





