Moreland berlari ke balik pepohonan. Dari sana ia menyaksikan benda berbentuk piring dengan dua sumber cahaya hijau sangat terang di bagian bawahnya, melayang sekitar empat meter dari tanah, pada jarak tidak lebih dari 45 meter darinya. Benda itu berdiameter sekitar enam hingga sembilan meter, dengan dua deret lubang di sekelilingnya yang “menembakkan api oranye” sambil berputar berlawanan arah.

Di dalam kubah transparan benda itu, Moreland mengaku melihat dua sosok berpakaian ketat mengkilap seperti aluminium foil, mengenakan helm yang tersambung langsung dari bahu. Setelah satu-dua menit, benda itu miring sedikit, lalu melesat vertikal ke atas dan menghilang ke dalam awan — meninggalkan bau aneh menyerupai lada di udara.
Moreland melapor ke polisi. Penyelidikan resmi dilakukan, termasuk oleh Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru (RNZAF). Laporan itu mendapat liputan luas di media nasional.
Surabaya, September 1964: Meriam Dikerahkan, UFO Tak Mempan
Peristiwa paling dramatis terjadi di Indonesia sendiri. Dalam situasi Operasi Dwikora — konfrontasi Indonesia melawan Malaysia yang didukung Inggris dan Amerika — langit Surabaya tiba-tiba dipenuhi benda-benda terbang tak dikenal mulai 18 September 1964.
Selama tujuh malam berturut-turut hingga 24 September, objek-objek itu muncul setiap malam dan menghilang menjelang fajar. Mereka terdeteksi secara bersamaan oleh radar dan mata telanjang — masuk kategori fenomena Radar-Visual Sightings (RV) yang paling sulit dibantah. Penampakan terjadi di segitiga wilayah: Surabaya, Malang, dan Bangkalan, Madura.
Karena Indonesia sedang dalam status siaga tempur, militer bereaksi dengan cara militer: menembak. Satuan Artileri Sasaran Udara (ARSU) Kodam VIII Brawijaya menghujani objek-objek itu dengan tembakan meriam artileri pertahanan udara. Hasilnya nol — tidak satu pun berhasil dijatuhkan. Lebih buruk lagi, pecahan peluru justru mengenai warga sipil di Sidoarjo yang sedang duduk di luar rumah.





