Enam Poros Berebut Tampuk Kepemimpinan NU di Muktamar ke-35

Ilustrasi Muktamar NU. Menjelang Muktamar ke-35 NU, enam poros kekuatan mulai memetakan strategi. ISTIMEWA
Kontestasi Muktamar NU Juli-Agustus 2026 kian memanas. Enam poros kekuatan bergerak masif, dengan jaringan PKB-PMII pegang 250 suara terbanyak.

Perebutan pucuk pimpinan PBNU bukan lagi sekadar kasak-kusuk di balik layar. Lobi lintas faksi, konsolidasi akar rumput, hingga manuver terbuka kian mewarnai dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan pada Juli atau Agustus 2026.

Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mengidentifikasi setidaknya enam poros utama yang kini sedang membangun basis kekuatan masing-masing.

Pemetaan Kekuatan: Dari Petahana hingga Jaringan Kultural

Poros pertama bersandar pada kubu petahana Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya memiliki keunggulan struktural dan jaringan nasional yang mapan, namun masih perlu mencari sosok Rais Aam yang kuat untuk memperkokoh legitimasinya.

Bacaan Lainnya

Poros kedua berpusat pada Miftachul Akhyar yang beririsan dengan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Kubu ini mengandalkan basis tradisional yang solid serta dukungan kiai-kiai sepuh di daerah. Gus Ipul sendiri sudah menegaskan tidak akan maju sebagai calon Ketum.

Poros ketiga mengarah pada Nasaruddin Umar. Nama Imam Besar Masjid Istiqlal ini mencuat berkat sinyal dukungan dari lingkaran kekuasaan — modal politik yang cukup signifikan.

Poros keempat merupakan blok besar yang digerakkan jaringan PKB dan alumni PMII, dengan wacana menduetkan calon ketum mereka bersama Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.

Poros kelima digawangi PWNU Jawa Timur yang mendorong Abdul Hakim Mahfuz (Gus Kikin). Mengingat Jawa Timur adalah lumbung suara terbesar, posisi mereka sangat strategis. Sementara poros keenam dipimpin Marzuki Mustamar yang secara terbuka mendukung kembalinya Said Aqil Siradj ke tampuk kepemimpinan.

Analisis Kuantitatif: PKB-PMII Dominan, Suara Mengambang Jadi Kunci

Dari sisi angka, Gus Lilur menyebut jaringan PKB-PMII sebagai kekuatan terbesar. “Secara garis besar, jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan memiliki sekitar 250 suara secara nasional. Sementara itu, jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara,” ujar Gus Lilur kepada wartawan, Jumat (1/5/2026).

Pos terkait