Ekonom memperingatkan Amerika Serikat kini berada dalam pusaran resesi akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian kebijakan Donald Trump.
Bayang-bayang resesi kembali menghantui Amerika Serikat. Tekanan ekonomi yang makin berat serta rentetan lonjakan harga energi memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar global saat ini.
Sejumlah ekonom menilai risiko perlambatan ekonomi sudah masuk tahap waspada. Hady Farag, Mitra di Boston Consulting Group, menyebut pelaku bisnis mulai mengambil langkah antisipasi menghadapi kenyataan pahit.
“Kita mungkin sudah berada di dalam pusaran resesi sekarang, atau setidaknya memiliki peluang besar untuk segera memasukinya,” tegas Farag pada Selasa (31/3/2026), dikutip dari CNBC Indonesia.
Sinyal Bahaya dari Kebijakan Trump
Tingginya harga energi memperkeruh suasana, karena kerap menjadi indikator awal datangnya badai. Kondisi ini kian rumit akibat arah kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump yang dinilai sangat kontroversial.
Manuver Trump, mulai dari pengenaan tarif baru hingga aturan imigrasi yang ketat, menyuntikkan ketidakpastian ke nadi pasar. Dan Suzuki dari Richard Bernstein Advisors menyoroti kecemasan yang menjalar di bursa saham.
“Pasar keuangan belakangan ini semakin jelas menunjukkan tanda-tanda ketakutan akan datangnya resesi,” kata Suzuki. Ia melihat adanya sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan oleh para investor global.
Fenomena “resesi bergulir” membuat pelemahan tidak menghantam semua sektor bersamaan. John M. Veitch, Dekan di Universitas Notre Dame de Namur, menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, badai ini mungkin sudah lewat.
“Jika Anda bekerja di sektor teknologi tinggi, badai itu sudah Anda lewati tiga tahun lalu,” ujarnya, merujuk pada PHK massal. Namun, kata dia, sektor lain kini mulai merasakan tekanan serupa akibat kebijakan tarif.
Risiko Stagflasi Mengintai
Kepala Ekonom EY-Parthenon, Greg Daco, memproyeksikan probabilitas resesi AS berada di kisaran 40 persen. Angka ini bisa melesat jika ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak menetap di USD140 per barel.





