Pengamat Timteng: Narasi ‘Iran Kecolongan’ Terlalu Sederhana

Sebuah spanduk bergambar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, terlihat dalam acara doa dan penghormatan pada 1 Maret 2026 di Teheran, Iran. Khamenei dikonfirmasi tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. — Majid Saeedi/Getty Images.
Dina Y. Sulaeman menyebut tudingan Iran lalai menjaga pemimpin sebagai generalisasi.

Pengamat Timur Tengah Dina Y Sulaeman menilai narasi bahwa Iran “kecolongan” dalam menjaga pemimpinnya sebagai penyederhanaan yang keliru.

Pandangan itu ia sampaikan melalui akun media sosial X, merespons pertanyaan publik terkait gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan militer.

Dina mengaku mendapat pertanyaan serupa saat tampil di televisi. Ia diminta menanggapi pernyataan narasumber lain yang menyebut Iran gagal menjaga keamanan pemimpinnya.

Bacaan Lainnya

“Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?” tulis Dina mengutip pertanyaan yang ia terima.

Menurut Dina, sebelum menjawab, ia telah menyimak keterangan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani.

Larijani, kata Dina, menyatakan bahwa Khamenei tidak bersedia bersembunyi di bunker selama rakyatnya tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berlindung.

Pengamat Hubungan Internasional Unpad, Dina Y. Sulaeman. (Tangkapan Layar X Dina Sulaeman)
Serangan Disebut Penuh Kejutan

Dina menjelaskan, serangan terjadi saat proses negosiasi masih berlangsung. Ia menilai faktor kejutan menjadi salah satu variabel penting.

Ia juga menyinggung pernyataan Menteri Luar Negeri Oman yang mengungkap Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya.

“Dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan,” tulis Dina.

Ia mencatat, serangan terhadap kediaman Khamenei terjadi pukul 08.30 waktu Iran, sementara serangan balasan dimulai pukul 11.00 waktu setempat.

Dina menolak kesimpulan bahwa kegagalan mencegat serangan otomatis berarti lemah.

“Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100 persen sempurna,” tulisnya.

Ia mencontohkan sejumlah peristiwa global, termasuk serangan 11 September di Amerika Serikat serta kebobolan roket di Israel meski memiliki sistem pertahanan Iron Dome.

Menurut Dina, kegagalan intersep bisa dipicu serangan multi-vektor, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis.

“Menyimpulkan ‘lemah’ atau ‘kecolongan’ dari satu kegagalan adalah falasi generalisasi yang terburu-buru,” tegasnya.

Soal Dugaan Kebocoran Intelijen

Dina juga menanggapi anggapan bahwa tewasnya Khamenei terjadi akibat kebocoran intelijen dan menandakan rezim tidak solid.

Ia menyebut semua negara mengalami infiltrasi intelijen, termasuk operasi CIA di Rusia maupun aktivitas Mossad di berbagai negara.

“Intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan intel-intel Iran juga ada di Teluk,” tulisnya.

Ia menambahkan, hingga kini belum ada kepastian apakah serangan dilakukan melalui jet tempur yang memasuki wilayah Iran atau rudal yang ditembakkan dari luar perbatasan.

Menurut Dina, rudal yang ditembakkan dari jarak dekat, seperti dari Suriah, Bahrain, atau Irak, memang sulit dicegat karena sudah dalam fase aktif.

Ia juga menyinggung luas wilayah Iran serta keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sekeliling kawasan yang membuat potensi arah serangan beragam.

Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa rudal Iran yang menuju Tel Aviv masih bisa dicegat di wilayah negara lain saat masih dalam fase meluncur.

Di akhir pernyataannya, Dina menegaskan bahwa agresi terhadap negara berdaulat melanggar Piagam PBB Pasal 2, dan negara yang diserang berhak membela diri sesuai Pasal 51.

Ia mengingatkan agar publik tidak menyalahkan korban, melainkan tetap berfokus pada pihak yang melakukan agresi.***

Pos terkait