Didukung Trump, rencana Utusan AS Yehuda Kaploun mengintervensi kurikulum dan algoritma medsos Indonesia tuai kontroversi.
Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari Rabi Yahudi Amerika-Israel, Yehuda Kaploun, yang belum lama ini ditunjuk oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Utusan Khusus untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme (SEAS).
Saat berbicara dalam konferensi Jerusalem Post baru-baru ini, Kaploun secara terbuka membeberkan misinya yang mendapat sokongan penuh dari pemerintahan Trump. Tak pelak, pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dan membuat warganet Indonesia tercengang.
Sebagai informasi, antisemitisme merujuk pada prasangka, kebencian, atau diskriminasi terhadap orang Yahudi, baik secara individu maupun kelompok agama. Namun, hal yang paling memantik kontroversi publik Tanah Air adalah ambisi Kaploun untuk memanfaatkan posisinya di Departemen Luar Negeri AS demi mengintervensi kurikulum pendidikan di Indonesia.
Kaploun menegaskan bahwa jabatannya membawa misi krusial yang melampaui urusan diplomasi biasa.
“Presiden Trump mengirim pesan penting ketika saya turun dari pesawat. Beliau menyatakan bahwa saya adalah perwakilan Presiden, dan saya mengenakan Yarmulke (topi khas Yahudi),” ungkap Kaploun.
Ia menambahkan bahwa langkah ini bukan sekadar upaya mengubah sejarah, melainkan sebuah manuver pendidikan berskala besar. Secara gamblang, ia menyebut rencananya untuk “mendidik” umat Muslim di Indonesia—yang ia sebut berjumlah 350 juta jiwa—dengan cara mengubah materi pelajaran di dalam buku-buku mereka.
Lebih jauh lagi, Kaploun turut membongkar strategi agresifnya di dunia digital. Ia berencana mengintervensi algoritma trending di media sosial untuk memberangus pihak-pihak yang ia anggap anti-Semit.
Untuk memuluskan langkah ini, ia siap menggandeng perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, khususnya yang berjejaring dengan pengusaha Yahudi.
”Kita akan menempatkan orang-orang kita di perusahaan yang bersedia bekerja sama, yang fokusnya khusus melawan anti-Semit,” tuturnya. Kaploun menjelaskan bahwa timnya akan mengerahkan teknologi canggih untuk mencapai tujuan tersebut. Ia juga mengklaim bahwa banyak perusahaan teknologi terbesar telah menawarkan bantuan mereka secara langsung.
Pada akhir penjelasannya, Kaploun menegaskan bahwa pihaknya memegang mandat yang sangat kuat dari pemerintah AS. “Jadi, kami harus punya wewenang penuh untuk mendidik kelompok anti-Semit agar berbalik melindungi Yahudi. Kita harus bisa membuat perubahan nyata dalam pertempuran melawan anti-Semit ini,” tegas Kaploun.
Pernyataan blak-blakan Yehuda Kaploun ini membuka mata kita tentang bagaimana kebijakan luar negeri dan lobi politik Amerika Serikat berpotensi menyasar ranah paling fundamental di negara lain—mulai dari ruang kelas hingga lini masa media sosial.
Kini, publik tentu menanti bagaimana sikap tegas pemerintah Indonesia dalam merespons wacana intervensi yang menyangkut kedaulatan pendidikan dan ruang digital nasional ini.***





