Pengamat mendesak pemerintah merombak sistem seleksi LPDP dan membenahi ekosistem karier domestik guna mencegah brain drain, merespons viralnya alumni yang membanggakan kewarganegaraan asing anaknya.
Kasus viral alumni LPDP yang membanggakan kewarganegaraan asing anaknya terus memicu perdebatan publik. Merespons hal ini, para pengamat mendesak pemerintah segera merombak sistem seleksi, menetapkan indikator kontribusi yang jelas, hingga membenahi ekosistem karier di dalam negeri guna mencegah fenomena brain drain.
Reaksi keras masyarakat terhadap pernyataan alumni LPDP berinisial DS bermula dari kesadaran bahwa program prestisius ini beroperasi menggunakan uang pajak rakyat. Pengamat pendidikan sekaligus peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anggi Firmansyah, menilai wajar jika publik ikut mengawasi.
Selain harus mematuhi aturan pengabdian 2n+1 (dua kali masa studi ditambah satu tahun), para awardee memikul beban moral. “Di situ ada uang pajak. Jadi wajar publik merasa punya kepentingan untuk berkomentar,” ujar Anggi.
Krisis Karakter dan Menagih Indikator Terukur
Senada dengan Anggi, Pengamat Pendidikan Ina Liem menyoroti akar masalah yang lebih dalam, yakni lemahnya pendidikan karakter dan kesadaran kewarganegaraan. Ia menilai orientasi sebagian penerima beasiswa kini berubah menjadi sangat individualistis.
“Negara butuh talenta cerdas, tapi lebih dari itu, negara butuh warga negara yang sadar peran dan tanggung jawabnya,” tegas Ina.
Oleh karena itu, Ina mendorong pemerintah segera merumuskan mekanisme akuntabilitas berbasis hasil (outcome). Evaluasi tidak boleh sebatas mewajibkan alumni pulang ke Tanah Air, tetapi harus memuat indikator kontribusi yang terukur, seperti jumlah riset yang teraplikasi atau penciptaan lapangan kerja, lengkap dengan sanksi tegas jika mereka melanggar komitmen.

Mendesak Perbaikan Ekosistem Karier Domestik
Meski demikian, persoalan ini tidak berdiri tunggal pada etika alumni. Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, meminta pemerintah lebih proaktif membuka lapangan kerja dan mendukung ekosistem riset. Langkah ini penting agar ilmu yang para lulusan bawa dari luar negeri bisa langsung mendongkrak industri nasional.





