PBNU Disebut Mirip Parpol, Pengamat Soroti Dugaan Aliran Dana dan Konflik Elite

Rais Aam PBNU KH. Miftachul Ahyar dan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf dalam sebuah acafra beberapa waktu lalu. Belakangan marak kabar tentang keretakan hubungan keduanya. - Istimewa
Pengamat politik menilai konflik elite PBNU menyerupai dinamika partai politik dan dipicu dugaan aliran dana.

Pakar Politik Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang, Adib Miftahul, menilai konflik di jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerupai dinamika partai politik. Ia menyoroti dugaan aliran dana besar dan kepentingan kekuasaan yang memicu desakan agar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatannya.

“Nah, sebagai catatan, jangan-jangan Syuriyah mulai mengetahui ada aliran dana di PBNU yang luar biasa besar?” kata Adib, Kamis (27/11/2025). Ia menilai sumber daya kekuasaan yang besar di lingkungan PBNU membuat posisi strategis organisasi tersebut sangat menggiurkan.

“Tadi saya katakan, salah satu kenapa PBNU sekarang menurut saya hampir mirip partai politik, masuk dalam hal kekuasaan, karena memang sangat-sangat menggiurkan begitu kita bisa memimpin tampuk kekuasaan di PBNU,” ujarnya.

Bacaan Lainnya
Dugaan Aliran Dana dan Sorotan Kasus Kuota Haji

Adib menilai kedekatan PBNU dengan pemerintahan sebelumnya, pengelolaan tambang, serta banyaknya kader yang mengisi jabatan strategis di kementerian menimbulkan persepsi publik bahwa terjadi praktik bagi-bagi kekuasaan. Ia juga menyinggung posisi Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut yang terseret kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 yang tengah ditangani KPK.

“Yang tidak beruntung adalah kebetulan Yaqut itu terseret kasus Kuota Haji,” ucapnya. “Kebetulan adiknya (Ketum) PBNU itu yang saya kira sangat mendiskreditkan posisinya Ketum sekarang,” lanjutnya.

Menurut Adib, isu-isu seperti pemurnian khittah NU hanya menjadi jembatan dari persoalan utama. “Akhirnya apa? Aliran uang, soal yang lain-lain itu, itu kan hanya bridging sebagai alat saja sebenarnya,” katanya. Ia juga menilai KPK lamban menetapkan tersangka. “Tetapi saya kira bahwa KPK sudah membidik ini sejak lama, tetapi kan masih belum berjalan dan kasus ini tidak jelas,” tegasnya.

‘Gempa Struktural’ Dinilai Tak Pengaruhi Basis Akar Rumput

Berbeda dengan Adib, Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK) Firman Syah Ali atau Gus Firman menilai pertikaian elite PBNU tidak akan menggoyahkan kekuatan NU secara keseluruhan.

“Gempa struktural di elite PBNU saat ini saya kira tidak berefek signifikan terhadap kekuatan bintang sembilan alias kekuatan NU,” ujarnya, Kamis (27/11/2025). Ia menegaskan kekuatan NU terletak pada basis kultural yang telah terbentuk jauh sebelum struktur formal PBNU berdiri.

“Kekuatan itu terdiri dari jaringan ulama yang kuat di mana satu sama lain masih ada ikatan nasab dari trah Walisongo,” jelas pendiri Konfederasi Olahraga NU (KONU) tersebut.

Gus Firman menyebut jejaring pesantren, lembaga pendidikan tradisional, dan ritual-ritual Aswaja Nusantara sebagai fondasi sosial-keagamaan yang membuat NU tetap solid. “Yang terakhir adalah kemandirian akar rumput NU yang luar biasa, bahkan di bawah tekanan penjajah Belanda, Jepang hingga rezim Orde Baru, akar rumput NU tetap bisa hidup dengan gembira, bahagia, dan kuat,” katanya.

Ia mengajak semua pihak menjaga ketenangan. “Mari kita tetap berdoa semoga ketidakserasian pemikiran ini segera selesai. Namun seandainya tidak segera selesai pun kita jangan khawatir, akar rumput akan tetap baik-baik saja,” ujarnya.

Catatan Syuriyah: Dugaan Pelanggaran Keuangan

Sebelumnya, salah satu poin dalam risalah rapat Syuriyah PBNU menyebut adanya indikasi pelanggaran tata kelola keuangan di lingkungan PBNU. Pelanggaran tersebut dinilai bertentangan dengan hukum syar‘i, peraturan perundang-undangan, Pasal 97–99 Anggaran Rumah Tangga NU, serta Peraturan Perkumpulan NU, dan dianggap membahayakan eksistensi badan hukum PBNU.***

Pos terkait