Kemerdekaan Indonesia adalah Hasil Usaha Sendiri: Pesan Mursyid Shiddiqiyyah di Peresmian 98 Rumah Syukur

Thriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchammad Muchtarullogil Mujtaba Mu'thi dalam acara Tasyakuran ke-97 tahun Sumpah Pemuda dan lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Selasa (28/10). - Samudrafakta
Peresmian 98 Rumah Syukur di Hari Sumpah Pemuda jadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati lahir dari usaha bangsa sendiri.

Tepat di Hari Sumpah Pemuda, Selasa (28/10), Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman, Losari–Ploso, Jombang, kembali menjadi pusat semangat kebangsaan. 

Di tempat ini, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) meresmikan 98 Rumah Syukur bagi warga kurang mampu, bertepatan dengan peringatan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Acara dimulai dengan doa, pembacaan Sumpah Pemuda, dan santunan bagi anak yatim. Suasana haru terasa ketika para penerima rumah menyampaikan rasa syukur mereka. “Alhamdulillah kepada OPSHID dan warga Shiddiqiyyah. Saya diberi Rumah Syukur, semoga Shiddiqiyyah makin maju,” ujar Wiji, penerima asal Bojonegoro.

Bacaan Lainnya

Mulyono, pengurus DPP OPSHID FKYME, mengatakan program Rumah Syukur dilaksanakan rutin setiap tahun sebagai wujud syukur dan kepedulian sosial. “Ini menunjukkan betapa masih banyak saudara kita yang hidup di rumah tak layak,” ujarnya.

Apresiasi datang dari Bupati Jombang, Warsubi. Ia menyebut program tersebut “luar biasa karena murni dari warga Shiddiqiyyah yang membantu sesama dari nol”.

Namun pesan paling dalam datang dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullahil Mujtaba Mu’thi. Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan bangsa sendiri, bukan hadiah dari siapa pun.

“Jiwa bangsa Indonesia itu jiwa besar. Negara ini berdiri bukan karena bantuan luar, tapi karena cita luhur bangsanya sendiri,” ujar Syekh Muchtar.

Beliau menambahkan, Indonesia adalah negara nasional berjiwa internasional — sebagaimana cita-cita Pembukaan UUD 1945 untuk menghapus penjajahan dan menegakkan keadilan sosial.

Dari semangat Sumpah Pemuda 1928 hingga aksi nyata di tahun 2025, Pemuda Shiddiqiyyah menunjukkan bahwa makna “merdeka” bukan sekadar kata, tapi tindakan nyata: peduli, berbagi, dan membangun sesama.***

Pos terkait