Leluhur kita sudah punya kecerdasan buatan ribuan tahun lalu — lewat primbon, hitungan waktu, dan bahasa kuno.
Jauh sebelum ChatGPT lahir, manusia Nusantara sudah menerapkan konsep Artificial Intelligence (AI) lewat cara mereka membaca alam dan menghitung waktu. Menurut pakar IT Vidia Utama Wahyudi Agustiono, Ph.D., primbon termasuk bentuk AI kuno karena memakai perhitungan manual untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
“Primbon sendiri masuk ke dalam kategori AI, meski belum secanggih AI modern,” ujarnya dalam Seminar Informatika Bela Negara di UPN Veteran Jatim, pada 11 Agustus 2023 lalu.
Filolog Jawa Kuno Prof. Manu J. Widyaseputra menambahkan, bahasa-bahasa kuno seperti Sanskerta memiliki struktur gramatikal presisi yang bisa diterapkan dalam sistem AI.
“Sayangnya, kekayaan alami ini tidak dipelihara. Banyak orang tidak tahu peradabannya sendiri,” katanya dalam pertemuan dengan PANDI tahun 2021. Ia menegaskan, banyak naskah Jawa Kuno menyimpan informasi teknologi tingkat tinggi.
Sementara pakar IT Prof. Eko Indrajit menilai bahasa kuno justru bisa menjadi jembatan komunikasi antara manusia dan mesin. “Bahasa Sanskerta efisien, sistematis, dan kaya gramatikal. Ia bisa menjadi bahasa tingkat tinggi untuk instruksi komputer,” jelasnya.
Jika Barat menciptakan AI untuk efisiensi, leluhur Nusantara menciptakannya untuk keberkahan. Di sini, kecerdasan buatan bukan cara menyaingi Tuhan, melainkan cara mengingat-Nya.
Selengkapnya baca di sini.





