Soetomo menegaskan pesantren sebagai benteng karakter dan kebudayaan bangsa, kala lembaga pendidikan Islam itu mendapat serangan bertubi dari kaum modernis.
Pada masa ketika sekolah Barat jadi simbol kemajuan, Dr. Soetomo justru melawan arus. Dokter lulusan STOVIA dan pendiri Boedi Oetomo itu menilai pesantren sebagai lembaga pendidikan paling lengkap—mengajarkan ilmu, moral, dan kemandirian sekaligus. “Pesantren dan pondoknya memberi pengajaran lahir-batin bagi murid-muridnya,” ujarnya dalam kutipan yang dikumpulkan Ahmad Baso (2012).
Dalam polemik kebudayaan 1930-an, Soetomo beradu gagasan dengan Ki Hadjar Dewantara dan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia menilai sekolah ala Eropa hanya melahirkan “buruh gajian”—pemuda yang kehilangan semangat bekerja merdeka. Politik etis, katanya, membuat kiai kehilangan murid dan sokongan hidup. “Setelah didirikan sekolahan yang membentuk kaum buruh gajian, tiada menyukai pesantren lagi… kiai-kiai lalu tiada tenteram,” tulisnya prihatin.
Sutan Takdir membalas keras, menyebut pesantren anti-intelektual dan penyebab kemunduran bangsa. Namun Soetomo tak gentar. Ia menegaskan bahwa pondok justru mempersatukan anak petani, saudagar, dan bangsawan dalam satu ruang belajar. Lewat Indonesische Studie Club yang ia dirikan di Surabaya pada 1924, Soetomo menggandeng tokoh Muhammadiyah dan NU untuk memperkuat gagasan pendidikan berjiwa pesantren.
Meski tak pernah mondok, Soetomo memahami ruh pesantren lebih dalam dari banyak kaum modernis. Baginya, pesantren bukan masa lalu, tapi masa depan pendidikan bangsa. Ia mengingatkan: sekolah bisa mencetak otak, tapi pesantren membentuk jiwa.
Selengkapnya di sini.
Meta description:





