Resmi jadi anggota BRICS, Indonesia memperluas peran di panggung global. Di balik euforia warga Indonesia di Brasil, terbuka peluang besar di bidang ekonomi, perdagangan, hingga reformasi geopolitik.
__________
Presiden Prabowo Subianto tiba di Brasil pada Sabtu pagi, 5 Juli 2025, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS. Kedatangan ini bukan sekadar kunjungan diplomatik. Bagi diaspora Indonesia di Brasil, ini adalah momen bersejarah, di mana untuk kali pertama Indonesia hadir sebagai anggota resmi BRICS.
Antusiasme warga negara Indonesia di Rio de Janeiro pun membuncah, menyambut sang Presiden dengan harapan baru untuk negeri. “Senang banget! Ini bukan cuma soal ketemu Pak Presiden, tapi juga karena kita akhirnya ikut masuk ke BRICS,” ujar Rani, salah satu warga Indonesia di Brasil—sebagaiman dikutip dari siaran resmi Sekretariat Kepresidenan.
Bagi mereka, keanggotaan Indonesia di BRICS bukan cuma pencapaian diplomatik, melainkan juga simbol bahwa Indonesia kini lebih diperhitungkan di panggung internasional.
Apa Itu BRICS dan Mengapa Penting?
BRICS adalah kelompok negara berkembang besar: Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Kelompok ini terbentuk tahun 2009 dan menjadi alternatif blok ekonomi global selain Barat.
Seiring waktu, BRICS berkembang menjadi BRICS+, dengan tambahan anggota baru, seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia sejak Januari 2025.
Kini BRICS+ mencakup hampir setengah populasi dunia dan menyumbang sekitar 40 persen output ekonomi global berdasarkan PPP, atau sekitar USD28 triliun. Ini bukan klub eksklusif, tapi forum besar bagi negara berkembang untuk menantang dominasi ekonomi-politik global yang selama ini dikuasai negara-negara Barat.
Peran Strategis Indonesia dalam BRICS
Bergabungnya Indonesia di BRICK membuka banyak pintu. Pertama, Indonesia adalah negara pertama dari Asia Tenggara yang masuk BRICS. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai jembatan antara ASEAN dan negara-negara Global South lainnya.
Kedua, Indonesia dapat ikut mendorong reformasi lembaga dunia seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia, agar lebih representatif terhadap kebutuhan negara berkembang. Dalam hal ini, misi BRICS sesuai dengan visi Presiden Prabowo, yang menekankan multipolaritas dan keseimbangan kekuasaan global.
Ketiga, Indonesia kini punya akses ke New Development Bank (NDB), bank pembangunan BRICS yang fokus mendanai proyek infrastruktur dan energi hijau. Ini krusial untuk mencapai target net zero emisi, sekaligus mendukung transisi energi nasional melalui proyek-proyek energi terbarukan.
Peluang Ekonomi dan Diplomasi Baru
Dari sisi perdagangan, keanggotaan BRICS memperluas pasar ekspor Indonesia. Saat ini, ekspor nonmigas Indonesia ke negara BRICS mencapai USD84,4 miliar atau sekitar 34 persen dari total ekspor nonmigas nasional, dengan China dan India sebagai dua pasar utama.
Masuknya Indonesia ke BRICS juga mendiversifikasi mitra dagang dan finansial. Tak lagi bergantung sepenuhnya pada sistem keuangan Barat, Indonesia kini ikut dalam wacana pembentukan sistem pembayaran lintas negara tanpa dolar AS, termasuk potensi mata uang bersama BRICS.
Dari sisi investasi, terbuka peluang besar pendanaan proyek dari investor BRICS, khususnya China, India, dan Rusia. Dalam konteks ini, Indonesia bisa memanfaatkan kedekatan historis maupun kesamaan visi pembangunan untuk memperkuat posisi tawar.
Risiko yang Harus Diwaspadai
Meski menjanjikan, BRICS bukan tanpa tantangan. Struktur anggotanya sangat beragam—dari demokrasi seperti India, hingga kesan otoritarian seperti Rusia dan Tiongkok. Ini membuat konsensus kadang lambat atau tak tercapai.
Yang lebih strategis adalah, dominasi Tiongkok dalam BRICS sangat mencolok, menyumbang sekitar 70 persen dari total PDB BRICS. Artinya, Indonesia harus cermat menavigasi arah kerja sama agar tidak terlalu bergantung pada satu negara.
Selain itu, dinamika politik internal BRICS, seperti absennya beberapa kepala negara dalam pertemuan penting, sering menimbulkan pertanyaan tentang soliditas dan komitmen organisasi ini.
KTT BRICS 2025: Langkah Awal Indonesia di Meja Besar
Di Rio de Janeiro, Indonesia langsung terlibat dalam diskusi-diskusi besar BRICS 2025, seperti reformasi PBB, tarif global, hingga krisis Timur Tengah.
Forum ini juga membahas pentingnya kerja sama dalam bidang teknologi hijau, kecerdasan buatan, kesehatan, dan ketahanan pangan.
Presiden Prabowo pun menyampaikan komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama selatan-selatan dan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang “bebas dan aktif”, tapi tidak netral dalam memperjuangkan keadilan global.
BRICS dan Masa Depan Indonesia
Keanggotaan Indonesia di BRICS menandai babak baru dalam diplomasi luar negeri Indonesia. Ini bukan hanya tentang posisi politik, tapi juga peluang konkret untuk pembangunan, diversifikasi ekonomi, dan penguatan posisi tawar global.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa memanfaatkan BRICS untuk memperluas jaringan dagang, memperkuat diplomasi pembangunan, dan ikut menata ulang tatanan ekonomi global agar lebih inklusif dan adil. Namun, seperti kata pepatah: berlayar ke samudra luas butuh kompas yang kuat.
Dan bagi masyarakat Indonesia di manapun, dari Jakarta hingga Rio de Janeiro, inilah saatnya menjaga semangat optimisme—bahwa Indonesia memang layak untuk diperhitungkan di meja global.***





