Penantian 120 Tahun Terbayar: Crystal Palace Akhirnya Merengkuh Piala FA

Pemain Crystal Palace merayakan gelar Piala FA usai mengalahkan Manchester City dengan skor 1-0 di Stadion Wembley, London, Inggris, Ahad, 18 Mei 2025 dini hari (WIB). Foto:The FA
Air mata itu akhirnya jatuh, bukan karena kecewa, tapi karena bahagia. Bukan karena patah hati, tapi karena impian yang lama tertahan akhirnya menjadi nyata. Crystal Palace menorehkan sejarah emas setelah menanti selama 120 tahun pada  Sabtu malam, 17 Mei 2025, waktu London, atau Ahad dini hari WIB.

_________________

Tim asal London Selatan itu menumbangkan raksasa Manchester City 1-0 di Stadion Wembley dan merebut gelar juara Piala FA untuk pertama kalinya sejak klub berdiri pada 1905.

Gol tunggal yang dicetak Eberechi Eze pada menit ke-15 menjadi penentu kemenangan. Tapi cerita sebenarnya bukan semata soal angka di papan skor. Ini adalah kisah 120 tahun perjuangan, dua kali gagal di final, dan akhirnya sukses menaklukkan raksasa sekaliber Manchester City.

Bacaan Lainnya

Di atas kertas, laga ini jelas milik City. Mereka datang dengan skuad bertabur bintang: Erling Haaland, Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, hingga kiper cadangan mewah seperti Stefan Ortega. Crystal Palace? Mereka hanya tim kuda hitam dengan semangat juang tinggi, serta racikan strategi dari pelatih anyar Oliver Glasner.

Namun sepak bola bukan soal statistik. Dan malam itu di Wembley, Palace menunjukkan bahwa kerja keras, strategi matang, serta mental juara bisa mengalahkan siapa pun.

Sejak awal laga, City langsung menguasai permainan. Dalam 10 menit pertama, penguasaan bola mereka mencapai 80 persen. Tapi Palace tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya butuh satu momen—dan itu datang di menit ke-15.

Eze, Henderson, dan Momen Ajaib

Serangan balik cepat diawali dari umpan Jean-Philippe Mateta ke Daniel Munoz di sisi kanan. Munoz mengirim crossing mendatar yang langsung disambar Eze dengan sepakan tenang ke pojok gawang. Stefan Ortega terkecoh, dan Wembley pecah. Para suporter Palace seakan tak percaya. Tapi gol itu nyata.

Setelah itu, City membombardir pertahanan Palace. Peluang demi peluang tercipta, termasuk penalti di menit ke-33 yang didapat usai Tyrick Mitchell melanggar Bernardo Silva. Namun nasib berkata lain. Omar Marmoush, bukan Haaland, yang jadi eksekutor. Tendangannya ditepis gemilang oleh Dean Henderson, yang malam itu berubah jadi tembok tak tertembus.

“Dia pahlawan kami malam ini,” kata Oliver Glasner seperti dilansir The FA, Ahad, 18 Mei 2025.

Henderson juga menggagalkan peluang dari Doku dan De Bruyne di babak kedua. Di saat semua orang menahan napas, kiper 27 tahun itu berdiri tegak seperti penjaga gerbang kemenangan.

Crystal Palace sempat menggandakan keunggulan lewat bola liar dari skema lemparan jauh Chris Richards. Bola sempat masuk ke gawang setelah mengenai Ismaila Sarr. Tapi VAR menganulir karena offside. Meski begitu, Palace tak goyah.

City terus menyerang, bahkan memasukkan talenta muda seperti Nico O’Reilly dan Claudio Echeverri. Tapi Palace menutup semua celah. Joachim Andersen dan Chris Richards tampil disiplin, dibantu semangat luar biasa dari lini tengah.

Di ujung laga, De Bruyne—yang disebut-sebut memainkan final terakhirnya bersama City—mendapat peluang emas. Tapi tendangannya melenceng tipis. Ia terduduk lemas, menutup wajah. Malam itu bukan milik City. Wembley sudah memilih pahlawan barunya.

Pos terkait