Saat Sidang Kabinet Paripurna pada Senin, 5 Mei 2025, Presiden Prabowo Subianto menegaskan secara terbuka jika dia bukan “boneka” Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi. Menurut pengamat, pernyataan itu membawa pesan politik yang jelas: bahwa Prabowo ingin membangun citra independen, tak bisa dikendalikan siapa pun.
__________
“Saya dibilang apa itu? ‘Presiden boneka’. Saya dikendalikan oleh Pak Jokowi, seolah-olah Pak Jokowi tiap malam telepon saya. Saya katakan itu tidak benar,” tegas Prabowo dalam sidang kabinet itu.
Prabowo mengaku jika dia hanya menjalin komunikasi dengan Jokowi untuk meminta masukan dan pandangan. Dan menurut dia, komunikasi itu wajar dilakukan, karena Jokowi merupakan presiden periode sebelumnya.
“Bahwa kita konsultasi, iya. Itu seorang pemimpin yang bijak. Konsultasi. Minta pendapat, minta saran. Beliau 10 tahun berkuasa,” katanya.
Akrab Bukan Berarti Dikendalikan
Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio alias Hensat, menilai, Prabowo ingin menegaskan bahwa posisinya sebagai pemimpin negara tidak bisa didikte. Prabowo ingin mempertahankan legitimasi kepemimpinannya.
“Pak Prabowo paham narasi ‘boneka’ bisa melemahkan posisinya. Jadi, dia langsung mematahkan narasi itu,” ujar Hensat kepada wartawan, Selasa 6 Mei 2025.
Hensat menilai, hubungan akrab antara Prabowo dan Jokowi adalah sesuatu yang baru dalam sejarah politik Indonesia.
“Pak Prabowo memahami betul posisinya sebagai presiden. Dia tahu cara berterima kasih kepada Pak Jokowi, tapi untuk urusan negara, dari awal saya yakin dia independen,” kata dia.
Hensat berpandangan bahwa Prabowo merupakan salah satu presiden yang memiliki hubungan baik dengan para pendahulunya. Maka dari itulah, wajar bila dia akrab dengan presiden sebelum dia, Jokowi.
“Saya sering bilang, ini pertama kalinya dalam sejarah ada mantan presiden dan presiden yang saling berkomunikasi akrab. Tapi, bukan berarti Prabowo boneka Jokowi. Mereka hanya berkomunikasi hangat, dan Prabowo tahu caranya berterima kasih,” kata Hensat.
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI ini juga menyoroti persepsi publik terkait narasi “boneka” ini. Menurutnya, pernyataan Prabowo seharusnya cukup untuk meredam spekulasi hubungan Prabowo dan Jokowi.
“Mungkin publik menilai (Prabowo sebagai ‘boneka’ Jokowi) dari tindakan atau kedekatan mereka. Tapi, mestinya sekarang sudah clear bahwa Prabowo adalah sosok yang memegang kendali penuh sebagai presiden,” kata Hensat.
Hensat juga menilai bila pernyataan Prabowo tersebut menunjukkan mantan Menteri Pertahanan itu ingin membangun citra kepemimpinan yang independen di mata publik.
“Dia seolah mau bilang, ‘Saya bukan sekadar pelanjut, saya punya visi sendiri.’ Ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat,” demikian Hensat.





