Purwakarta Terancam Tanah Bergerak, Badan Geologi Rekomendasikan 7 Langkah Mitigasi. Apa Saja?

Penampakan lokasi pergerakan tanah di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Foto:Badan Geologi
Badan Geologi merilis hasil penelitian pergerakan tanah yang terjadi di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Menyusul surat permohonan penelitian dari Kepala Pelaksana BPBD Purwakarta, laporan tersebut mengungkapkan temuan penting serta rekomendasi teknis guna mencegah kejadian lebih parah di masa depan. Apa saja rekomendasinya?

_________________

Gerakan tanah yang terjadi di Kp. Bungur Sarang, RT 07 dan 08, RW 04, Desa Cisarua, pertama kali teridentifikasi pada awal Maret 2025. Gejala-gejala awal, seperti retakan di permukaan jalan, masjid, dan beberapa rumah warga, menunjukkan adanya ancaman pergerakan tanah. Ternyata, pergerakan tanah ini bukan yang pertama kali terjadi di daerah tersebut, karena sebelumnya pada tahun 2022 dan 2023 juga sudah tercatat adanya kejadian serupa.

Wilayah ini terletak di kaki lembah pegunungan sekitar Waduk Jatiluhur. Morfologi alamnya berupa perbukitan bergelombang menengah dengan lereng yang miring hingga curam, terutama di sekitar alur sungai musiman. Berdasarkan peta geologi, batuan di lokasi bencana terdiri dari napal, batulempung, serpih, dan pasir kuarsa. Tanah di kawasan ini memiliki tekstur lempung pasiran berwarna coklat tua dengan ketebalan 0,5 hingga 2 meter, yang menunjukkan bahwa tanah tersebut telah mengalami pelapukan lanjut dan memiliki tingkat ketahanan yang rendah.

Bacaan Lainnya
Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan peta prakiraan dari Badan Geologi dikutip pada Senin, 28 April 2025, wilayah ini termasuk dalam zona kerentanannya menengah-tinggi terhadap pergerakan tanah. Artinya, potensi bencana pergerakan tanah cukup besar, terutama saat curah hujan tinggi dan berkelanjutan. Zona seperti ini rawan terjadinya pergerakan tanah, terutama di lereng yang telah tergerus air atau mengalami gangguan struktural.

Akibat pergerakan tanah, beberapa rumah di kawasan tersebut mengalami kerusakan. Sebuah rumah rusak sedang, sementara enam rumah lainnya rusak ringan. Selain itu, sembilan rumah lainnya terancam longsor dan harus segera dievakuasi. Selain rumah, beberapa fasilitas umum seperti masjid dan talud juga mengalami kerusakan. Bahkan, ruas jalan penghubung antar desa terancam putus.

Pos terkait