Israel dan Hamas Sepakat Gencatan Senjata, Sandera Dibebaskan

Warga Palestina menyambut gembira berita tentang kesepakatan gencatan senjata Hamas dengan Israel, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, 15 Januari 2025. (Tangkapan Layar Arab News)
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui gencatan senjata serta pertukaran sandera pada Rabu, 15 Januari 2025.

Sheikh Mohammed berharap kesepakatan tersebut dapat menjadi langkah menuju perdamaian permanen di Gaza.

Namun, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengingatkan bahwa beberapa poin kesepakatan masih belum tuntas meski optimistis rincian akhir akan selesai malam itu.

Presiden Israel Isaac Herzog menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah tepat untuk membawa pulang sandera yang diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang tersebut.

Bacaan Lainnya

Gencatan senjata akan mulai berlaku pada Ahad, 19 Januari 2025, menurut Sheikh Mohammed. Ia menyebut bahwa tahap awal kesepakatan melibatkan pembebasan 33 sandera oleh Hamas, termasuk perempuan dan anak-anak, sebagai imbalan atas sejumlah tahanan Palestina yang ditahan Israel.

Kabar kesepakatan ini seperti dilaporkan Arab News disambut sorak gembira di Tel Aviv, di mana para demonstran menuntut pembebasan sandera. Di Gaza, ribuan warga merayakan gencatan senjata yang diharapkan mengakhiri konflik yang meluluhlantakkan wilayah tersebut.

“Saya tidak percaya mimpi buruk lebih dari setahun ini akhirnya berakhir,” ujar Randa Sameeh, 45 tahun, yang mengungsi ke kamp pengungsi Nuseirat.

Hamas menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan keteguhan rakyat Palestina dan keberanian perlawanan mereka.

Upaya Internasional

Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat berperan penting sebagai mediator dalam negosiasi ini. Sheikh Mohammed mengonfirmasi bahwa ketiga negara akan memantau pelaksanaan gencatan senjata melalui sebuah badan di Kairo.

Presiden AS Joe Biden menyambut baik perkembangan ini, menyebutnya sebagai langkah besar untuk menghentikan pertempuran, meningkatkan bantuan kemanusiaan, dan menyatukan kembali sandera dengan keluarga mereka.

Kesepakatan tercapai di tengah tekanan internasional yang meningkat, beberapa hari sebelum pelantikan Presiden terpilih Donald Trump. Trump memuji kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai hasil kemenangan politiknya. Ia memperingatkan Hamas akan konsekuensi serius jika sandera tidak segera dibebaskan.

Pos terkait