Para calon kepala dan wakil kepala daerah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 tumbang di ‘lumbung suara tradisional’ mereka: Depok, Jawa Barat, dan Jakarta. Pengamat menyebut banyak faktor memengaruhi.
Untuk Pilkada Jakarta, berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, Ridwan Kamil dan Suswono–pasangan yang didukung PKS–kalah bersaing dari pasangan Pramono Anung-Rano Karno.
Suswono adalah kader senior PKS yang pernah menjabat jadi Menteri Pertanian di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sedangkan di Depok, pasangan calon (paslon) Imam Budi Hartono dan Ririn Farabi Arafiq yang diusung PKS dan Golkar juga tumbang—berdasarkan quick count lembaga survei. Mereka kalah dari rivalnya, Supian Suri-Chandra Rahmansyah.
Demikian pula di Jawa Barat. Presiden PKS Ahmad Syaikhu yang maju jadi calon gubernur kalah dari Dedi Mulyadi. Syaikhu maju bersama putra Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina, Arif Susanto, rentetan kekalahan itu disebabkan, salah satunya, karena tokoh-tokoh PKS yang tampil sebagai calon kepala atau wakil kepala daerah yang diusung PKS kurang memikat.
Elektabilitas kandidat rendah. Walhasil, menurut Arif, PKS pun harus mendompleng nama Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai pengatrol suara.
Sementara rival politik mereka, misalnya Pramono-Rano di Jakarta, tak terlalu menonjolkan identitas partai, sehingga lebih banyak elemen masyarakat yang bisa menerima pasangan ini.
“Ini berbeda dengan Suswono. Bukan hanya keterkenalannya di Jakarta rendah, tetapi juga membuat blunder-blunder. Terlihat bahwa kantong penting pemilih PKS, lebih masuk ke Rano,” kata Arif kepada media, dikutip Kamis, 28 November 2024.
Selain itu, menurut Arif, dukungan dua mantan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga menambah suara Pramono-Rano secara signifikan.
Sementara Ridwan Kamil yang lekat dengan ‘Bobotoh’ atau pendukung Persib Bandung membawa sentimen negatif di Jakarta—terkhusus bagi pendukung Persija—kendati tak besar. Suswono juga tak punya kharisma bagi ‘The Jakmania’.
Hal lainnya, kata Arif, mesin PKS mulai melemah. Salah satu penyebabnya yaitu masalah di internal PKS yang akhirnya memunculkan Partai Gelora.
“Kali ini pertarungan faksinya bertarung sangat keras. Itu punya pengaruh atas keterpilihan wakil PKS,” kata Arif. “Memang mereka mampu rebound di pilpres, tetapi yang terjadi hari ini terbukti kekuatan PKS itu di organisasional dan bukan personal. Padahal pilkada itu figur personal menentukan,” tambahnya.
Sedangkan di Depok, menurut Arif, PKS tak punya warisan membanggakan selama hampir dua dekade menguasai kota ini. Menurutnya, tidak ada perubahan berarti dalam kepemimpinan PKS.
“Dari era Nur Mahmudi Ismail, sebenarnya Depok tidak mengalami lompatan signifikan. Ada perubahan, betul. Kemajuan terjadi, iya. Pembangunan dilakukan, juga benar. Tapi tidak ada perubahan yang signifikan,” kata dia.
Selain itu, lanjut Arif, kini pemilih semakin cerdas, sehingga belum tentu memilih figur yang dicalonkan partai.
“Boleh jadi wakil PKS kalah karena split voters. Pilihan orang terhadap partai tidak serta merta membuat dia melakukan pilihan ke figur yang dicalonkan partai di Pilkada,” ucap Arif.
“Pemilih itu makin cerdas. Ini biasanya jauh lebih kuat di kelompok pemilih terdidik, perkotaan, dan sosial ekonomi yang lebih. Apakah Depok mengalami itu? Perlu ditelaah lebih jauh saya kira,” paparnya.
PKS Sebut Tak Ada Kekuasaan Abadi, Singgung Kekalahan PDIP
Juru Bicara PKS Ahmad Mabruri memandang kekalahan kandidat mereka di Pilkada Jakarta, Jawa Barat, dan Depok adalah hal biasa, karena kekuasaan tak ada yang abadi.
“Biasa saja. Yang namanya kekuasaan itu memang dipergilirkan. Tak ada kekuasaan yang abadi,” kata Mabruri kepada wartawan, Kamis, 28 November 2024.
Mabruri menambahkan, tak cuma PKS yang mengalami kekalahan di wilayah-wilayah yang selama ini jadi kekuatan mereka. Ia menyebut PDIP juga mengalami kekalahan di Jawa Tengah pada Pilkada Serentak 2024.
“PDIP juga kalah di Jateng dan Solo. Jadi, yang namanya Pilkada, ya pasti ada yang kalah dan menang,” ujarnya.
Namun, kata dia, PKS akan melakukan evaluasi internal terkait hasil Pilkada 2024, khususnya di tiga wilayah tersebut. “Kan siklus biasa ini. Kontestasi-evaluasi-konsolidasi. Hal yang rutin di partai politik,” kata dia.***





