Miliarder berdarah Prancis, Yvon Chouinard, ini ‘agak laen’. Pria 85 tahun dengan pendapatan USD1 miliar—sekitar Rp15,6 triliun—itu lebih suka menekuni dua hobinya, selancar dan panjat tebing, ketimbang menimbun harta kekayaan.
Kendati Chounard ‘jual mahal’ dengan uang, alat tukar itu terus ‘mendatanginya’. Pundi-pundinya meningkat pesat, datang dari perusahaan pakaian outdoor Patagonia yang dia dirikan bersama sang istri, Malinda Pennoyer, pada 1973.
Patagonia telah membukukan penjualan sebesar USD1 miliar—sekitar Rp15,6 triliun—tiap tahun.

Kesuksesan bisnis Chouinard membuatnya masuk ke daftar Forbes 2017. Sekaligus menasbihkannya sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Namun, alih-alih bahagia dengan pencapaian tersebut, pria kelahiran Lewiston, Maine, Prancis ini justru mengaku sangat kesal.
Pasalnya, bagi Chouinard, menjadi miliarder justru merupakan ‘bukti kegagalan’. Menurut dia, menjadi kaya itu adalah tanda jika tujuan luhurnya untuk membuat dunia menjadi lebih dan adil belumlah tercapai.
Maka dari itu, dengan kekayaannya, dia berusaha mencari cara agar keadilan yang dia cita-citakan bisa terwujud. Sebagaimana ditulis dalam artikel Forbes tujuh tahun lalu, dia pun memutar otak agar Patagonia, ‘tambang uangnya’ itu, dapat membantu lingkungan.

Walhasil, pada tahun 2022 dia mengumumkan semua sahamnya di Patagonia akan disumbangkan ke Holdfast Collective, sebuah yayasan yang fokus ke isu-isu alam dan lingkungan.
Patagonia juga mendirikan Patagonia Purpose Trust, yang berhasil mengumpulkan USD100 juta atau sekitar Rp1,5 triliun setiap tahun untuk lingkungan.
“Pemegang saham tunggal kami sekarang adalah planet bumi,” ujar Chouinard, dalam pesannya kepada staf dan pelanggan, sebagaimana dikutip dari Forbes.
“Jadi, bukannya go public, kami ‘masuk’ ke publik untuk suatu tujuan. Alih-alih mengekstraksi alam dan mengubahnya menjadi kekayaan bagi investor, kami memanfaatkan kemakmuran yang dihasilkan Patagonia untuk melindungi sumber segala kemakmuran,” tegasnya.





