Obituari Marissa Haque: Perempuan Haus Ilmu, Pembela Palestina, Sang Peduli Produk Halal

Marissa Haque. (Foto:IST)
Marissa Grace Haque atau kerap ditulis Marissa Haque-Fawzi, artis senior era 1980-an, politisi dan akademisi menghembuskan napas terakhirnya, dini hari pukul 00.43 WIB, Rabu (2/10/2024) di Rumah Sakit Premiere Bintaro, dalam usia 61 tahun. Sebelumnya, Marissa ditemukan sudah tak bergerak di kamar tidurnya.

Gigih Membela Palestina

Marissa Haque dikenal gigih dan vokal membela Palestina hingga di ujung waktunya sebelum kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Sebelum meninggal dunia, ia masih menunjukan dukungannya pada kemerdekaan Palestina. Dilihat dari akun IG-nya, Marissa Haque selalu mengunggah momen dirinya menunjukan dukungan lewat pakaian maupun tulisan.

“INNALILAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN. Saya pribadi juga sudah tak sanggup lagi berkata-kata. La ilaaha ila anta subhanaka inni kuntu minadzdzoooolimiiiin,” ujar Marissa Haque sambal membagikan kondisi Palestina.

Marissa Haque bahkan selalu berada diĀ  garda terdepan dalam gerakan mendukung kemerdekaan Palestina. Marissa juga mengajari anaknya untuk peduli pada Palestina. Chiki, putri keduanya, yang aktif di dunia fashion, dengan produk jaket lukis, menyisihkan keuntungannya untuk didonasikan membantu warga Palestina.

Bella Fawzi kakaknya, juga aktif menyuarakan pesan pembelaan terhadap Palestina lewat media sosial dan beberapa kali ikut turun ke jalan dalam aksi demo solidaritas Palestina. Marissa juga aktif menyerukan memboikot produk-produk pendukung Zionis Israel sebagai bentuk pembelaan terhadap Palestina.

Terkait gerakan boikot, ia mencontohkan kisah sahabat Utsman bin Affan yang membeli sumur Yahudi dengan penggunaan sumur secara bergantian, sehari digunakan untuk Yahudi, sehari lagi untuk Muslim. Ketika giliran Yahudi mereka menjualnya dengan harga yang mahal, sementara giliran Utsman, ia menjualnya dengan sangat murah.

Di momen itulah ada gerakan boikot untuk tidak membeli air di hari saat Yahudi berjualan, sehingga akhirnya mereka bangkrut dan sumur tersebut akhirnya dijual secara penuh dan bisa dikuasai seluruhnya oleh Utsman untuk kepentingan kaum Muslimin.