Obituari Marissa Haque: Perempuan Haus Ilmu, Pembela Palestina, Sang Peduli Produk Halal

Marissa Haque. (Foto:IST)

Sebagai sosok yang peduli dengan produk halal, Marissa pernah lantang mengkritisi Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang menurutnya telah memangkas peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang jaminan produk halal. Peran MUI tentang fatwa halal dan haram suatu produk, akan ditentukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Sikap kritis terhadap pasal-pasal produk halal dalam UU Omnibus Law, menurutnya, merupakan jihad menyuarakan kebenaran.

Riwayat Keartisan dan Politik

Perkenalan Marissa dengan dunia hiburan dimulai ketika ia aktif menyanyi dan menari dalam sanggar “Swara Mahardika” pimpinan Guruh Soekarnoputra. Debut keaktrisannya dimulai pada 1980 lewat film ‘Kembang Semusim’ di mana ia berperan sebagai Mirna.

Selanjutnya, ia bermain di film ‘Bawalah Aku Pergi’, ‘IQ Jongkok’, ‘Hukum Karma’, ‘Tangkuban Perahu’, ‘Kamp Tawanan Wanita’, ‘Pandawa Lima’, ‘Jejak Pengantin’, ‘Kontraktor’, ‘Merindukan Kasih Sayang’, ‘Tinggal Landas buat Kekasih’, dan ‘Asmara di Balik Pintu’. Selain itu, ia juga bermain di film ‘Penginapan Bu Broto’, ‘Dia Bukan Bayiku’, ‘Cinta yang Berlabuh’, ‘Perasaan Perempuan’, Sepondok Dua Cinta, dan Yang Tercinta.

Sutradara M.T. Risyaf kemudian mengajak Marissa main dalam film “Kembang Semusim” (1980). Talentanya yang besar dalam seni peran kemudian membuahkan hasil. Empat tahun kemudi-an, Marissa berhasil meraih Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Terbaik di film “Tinggal Landas Buat Kekasih” (1984)

Lewat aktingnya dalam film “Matahari Matahari” (1985), ia berhasil meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik 1987. Tak lama kemudian, ia bermain film bersama suaminya, Ikang Fawzi, dalam film “Biarkan Bulan Itu” (1986). Berkat aktingnya di film ini,  dia dinobatkan sebagai Aktris Terbaik di ajang Festival Film Indonesia.

Tak puas hanya sebagai pemain, ia mulai menjajal kemampuannya sebagai produser. Dari tangan dinginnya, terlahir film “Sepondok Dua Cinta” (1990) dan “Yang Tercinta” (1991). Semenjak itu, ia mulai tertarik untuk memproduksi sejumlah sinetron. Salah satu yang berha-sil adalah sinetron “Salah Asuhan” (1993) yang meraih Piala Vidia sebagai mini seri terbaik versi Festival Sinetron Indonesia 1994.  Menurut informasi, selepas pensiun dari dunia film, Marissa mengikuti tarekat Naqsyabandiyah-Sadziliyah.

Marissa juga pernah terjun ke politik. Dilansir dari buku Profil dan Program Anggota DPR-RI 2004-2009, Marissa terpilih sebagai wakil rakyat dari fraksi PDI-P asal Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat II. Marissa dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2004-2009.  Namun, dia maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banten 2006 sebagai wakil gubernur mendampingi Zulkieflimansyah.

Dilansir Antara, Senin (28/8/2006), pasangan Zulhaq ini diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Syarikat Islam (PSI) pada Agustus 2006. Akibat pencalonannya di pilkada, dia pun dikeluarkan dari DPR RI. Marissa sempat mengungkap, bahwa dia diminta mundur oleh Sekretaris Jenderal PDI-P saat itu Pramono Anung.

PDI-P sendiri mengusung pasangan Ratu Atut Chosiyah dan Mohammad Masduki yang kemudian memenangkan Pilkada Banten 2006. Setelah karier politiknya di PDI-P, Marissa memutuskan bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 2007. Pada 2012, Marissa Grace Haque kemudian bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Haus Ilmu dan Rajin Menulis

Setelah tamat dari SMAN 8 Jakarta, Marissa Haque melanjutkan studi bidang Hukum Perdata di Universitas Trisakti, dan lanjut Magister bidang Bahasa Anak Tunarungu di Universitas Katolik Atma Jaya. Ia juga pernah menempuh S-2/ Hukum Bisnis UGM ( Universitas Gadjahmada), dan S-2/ Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Konsentrasi Keuangan Syariah/ UI (Universitas Indonesia).Gelar doktornya diraih dari Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup (PSL) IPB University.

Tidak hanya studi di dalam negeri, meski tidak sampai selesai, Marissa sempat mencicipi berkuliah di Ohio University, Athens, Amerika Serikat mengambil dua jurusan, yaitu jurusan film dan Television dan Space Communications/Satellite.

Sebagai dosen di Indonesia Banking School, Marissa berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi muda. Marissa Haque terakhir kali mengajar di kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia Banking School (STIE IBS) di Kemang, Jakarta Selatan.

Di tengah kesibukannya sebagai artis senior, akademisi, dan berbagai kegiatan lainnya, Marissa juga produktif menulis beberapa buku:

  1. Jawa dan Halal di Thailand (2017). Buku ini merupakan hasil riset yang menceritakan pengaruh budaya Jawa dan Masjid Jawa di Shatorn, Bangkok, Thailand.
  2. Muslimin Vietnam dan Industri Halalnya (2019).
  3. Strategi Pemasaran Konsep, Teori dan Implementasi (2021).
  4. IMF ala Indonesia: Potret Lembaga Keuangan Mikro Syariah Indonesia, CPPE (Centre for Policy and People Empowerment), 2013.
  5. Batik Lukis Basu SD, Kaki Langit Kencana, 2012.
  6. Membangun Gerakan BMT Indonesia, Lembaga Ombudman Swasta DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), 2011.
  7. Strategi Bisnis Untuk BMT, Lembaga Ombudsman Swasta DIY, 2011.
  8. Bahasa Kasih: Memahami Masalah Ketunarunguan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.
  9. Undang-undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2004 Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Pabelan Cerdas Nusantara, Solo, 2005.
  10. Aminah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999

Sosok yang telah memberi warna dalam berbagai bidang hiburan, politik, dan pendidikan. Warisannya akan terus dikenang, terutama bagi mereka yang terinspirasi oleh perjalanan hidup dan kariernya yang beragam.

“Icha” sapaan akrabnya, istri dari Drs. H. AZ Ahmad Zulfikar, MBA atau Ikang Fawzi (penyanyi rock terkemuka tahun 90-an), Ibunda dari Isabella Muliawati Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi (seniman animasi Indonesia yang terlibat dalam pembuatan film kartun Ipin & Upin) dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan, bakda Ashar sesuai dengan wasiatnya.*